• SHARE
  • -
  • Sharing Central

Star Talk

Menolak Job Demi Anak

Menolak Job Demi Anak

Apa jadinya jika Anda sebagai ibu punya kesibukan seabrek? Sibuk bisnis buat yang terjun jadi entrepreneur, show bagi yang kebetulan terjun di dunia artis, atau bahkan arisan bagi ibu-ibu yang gemar bersosialisasi. Tentu, semua itu bukan hal yang salah. Sebab, semuanya pasti mengandung sesuatu yang positif. Tapi, bagaimana jika kesibukan terbentur dengan kepentingan si buah hati? Inilah dilema yang sering dialami seorang ibu. Tapi, itu semua bukan masalah bagi Tike Priatnakusumah, presenter dan komedian yang menjulang namanya berkat acara Extravaganza di TransTV ini.

Khusus untuk ibu-ibu pembaca MorinagaPlatinum, kelahiran Bandung 31 Oktober 1977 yang akrab dipanggil Neng Tike ini membeberkan rahasia mengasuh anak di sela kesibukannya usai siaran di sebuah radio.
 

Kayaknya sibuk banget nih Mbak?
Iya.. beginilah. Saya tadi habis siaran. Habis itu baru ke sini.

Jarang ketemu dengan anak secara full time dong?
Bagi saya sih sebenarnya yang penting kualitas ya.. Tapi memang kadang kangen juga sih kalau sedang sibuk banget dan berkurang waktunya bertemu dengan Letta (panggilan akrab putrinya-red).  Paling kalau kangen, biasanya kalau pulang malem saya peluk dia kencang dan saya tidur dengannya.

Jadwal Tike memang superpadat. Tiap Senin sampai Jumat pagi ia siaran di radio dari pukul 06.00 pagi. Belum lagi jadwal syuting rutin di televisi yang nyaris membuatnya tak pernah memiliki jadwal kosong. Ibu dari Latisha Rayya Arifti yang saat ini sudah masuk usia menjelang 16 bulan kemudian mencoba melakukan berbagai cara agar tetap bisa dekat dengan sang buah hati.

Terus, bagaimana Mbak menyikapi kesibukan dengan anak agar bisa tetap dekat dengannya?

Yang pasti, saya usahakan setiap weekend, saya nggak akan terima kerja. Kecuali, kalau memang ada kontrak yang sudah berjalan lama. Tapi, kalau sekarang, jika ada tawaran job di saat  weekend, pasti akan saya tolak. Itu sudah pasti. Sebab, biar bagaimana pun, saya sebagai ibu, tentu saya nggak ingin dia lebih kenal dekat  dengan orang lain, misalnya dengan susternya. Karena itu, satu-satunya hal yang bisa membatalkan jadwal saya adalah anak. Kalau dia tiba-tiba sakit atau kenapa-kenapa, saya pasti akan memilih anak.

Saat ini, buah hati Mbak lebih dekat ke siapa?
Kalau melihat kesehariannya, memang biasanya anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Dia kalau tidur memang lebih suka dengan ayahnya. Tapi sebenarnya, porsi kedekatannya seimbang. Dia juga kalau lagi kangen, selalu mencari-cari saya. (Saat wawancara, sang anak memang berkali-kali mengundang mama.. mama...)

Terus, di tengah kesibukan ini, bagi waktu dengan suami untuk anak bagaimana?
Ya mengalir begitu saja. Saya dan suami tak pernah hitung-hitungan, kamu sudah ngerjain apa, siapa yang ganti popok atau bersihkan saat buang air. Yang penting saling mengisi saja. Saya kan sibuk, suami juga kerja. Tapi justru karena itu, kita bisa saling pengertian untuk memberikan yang terbaik buat anak.

Apakah Mbak membiasakan sejak dini memberitahu anak kalau Ibunya mau kerja?
Yang penting, saya itu jujur dengan anak. Jadi, kalau pergi lama, ya jangan katakan sebentar. Itu anak sudah bisa merasakan kok. Cuma memang, kalau perginya lama, saya coba kasih pengertian. Mama pergi ya.. tapi nanti pasti mama kembali. Nah, kalau perginya lebih dari sehari semalam, biasanya dia baru saya ajak.

Kalau tidak, waktu break acara, biasanya saya telepon dia. Meski dia cuma bisa bilang mama.. mama.. tapi itu sudah cukup buat obat kangen dan dia juga tahu ibunya yang telepon.  

Bisa diceritakan sedikit waktu awal-awal lahir Mbak? Sempat memberi ASI eksklusif dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)?
Saya pengennya begitu. Tapi, saya ini kan melahirkan melalui operasi sesar. Jadi, waktu lahir dan belum sempat IMD, saya sudah nggak sadar. Kemudian, saya pengen banget kasih ASI eksklusif meski padat banget jadwal kerja. Sebab, saya ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati. Tapi, saya hanya sempat kasih ASI sampai tiga bulan. Bukan tidak mau, tapi tidak bisa meneruskan karena memang ASI saya sedikit sekali. Sudah dipakai berbagai cara, tapi keluarnya memang sangat sedikit. Sudah diperas, pakai alat, sampai dibantu bapaknya, tapi akhirnya memang kurang. Jadinya saya cuma bisa kasih ASI sampai usia 3 bulan. Tapi, Alhamdulillah dia tetap sehat, dan bisa dilihat, sekarang lincah dan berkembang dengan sangat baik.

Untuk mendukung perkembangannya, apa yang Mbak lakukan?
Banyak ya.. Sejak dini misalnya saya memasukkan dia ke sekolah khusus, baby class. Bukan bermaksud apa-apa, sebab Letta itu jarang keluar rumah. Jadi, saya ingin dia bisa lebih bersosialisasi. Makanya, saya masukkan dia ke sekolah itu. Tapi, jangan dibayangkan itu seperti sekolah-sekolah biasa. Di sana itu mereka bermain-main saja. Itu dia masuk tiap Selasa dan Kamis.

Bagaimana kondisi anak waktu di-'sekolah'-kan?
Dia itu pada dasarnya lebih mudah bergaul dengan orang dewasa. Jadi, waktu pertama sekolah, ya dia mudah akrab dengan guru pendampingnya. Dan, itu sekolahnya kan bermain-main. Jadi ya dia senang. Sekarang, dia juga sudah lebih bisa bergaul dengan anak seusianya. Intinya, sekolah itu membuat dia mudah bersosialiasi lah.  


Soal bakat gimana Mbak, dia sudah bisa apa saja?
Wah.. kalau itu saya tidak mengarahkan sama sekali ya. Biarkan dia tumbuh berkembang apa adanya. Saya dulu dididik ibu juga nggak diarahkan mau ke mana dan jadi apa. Yang penting, kasih sayang dari orangtua selalu ada, dan berikan kualitas yang terbaik saat berhubungan dengan anak.

Ok Mbak. Terakhir, ada pesan buat pembaca sebagai orangtua?

Sebagai perempuan bekerja, bukan berarti kita tidak bisa meluangkan waktu untuk anak. Di tengah kesibukan, kita tetap bisa memberikan waktu yang berkualitas untuk buah hati. Yang penting, kita harus bisa memperkuat bonding (ikatan) dengan anak, dan pastinya peran sebagai ibu harus selalu nomor satu!