• SHARE
  • -
  • Sharing Central

Star Talk

Mengajari Anak Mandiri Sejak Dini

Mengajari Anak Mandiri Sejak Dini

Terlahir dari latar belakang budaya Indonesia namun memiliki pasangan hidup dari negara dan budaya lain, ternyata memiliki sejumlah keuntungan sekaligus tantangan. Seperti yang dialami oleh Farah Quinn, ahli masak yang terkenal lewat acaranya di sebuah televisi swasta, Ala Chef. Perempuan berkulit hitam manis yang bersuamikan Carson Quinn yang berasal dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat (US) ini mampu menggabungkan dua budaya yang berbeda pada anaknya, Armand Fauzan Quinn. Nah, apa dan bagaimana Farah menyinergikan dua budaya yang berbeda ini? Berikut petikan wawancara di rumahnya yang asri di daerah Joglo Jakarta Barat.
 
Bisa diceritakan bagaimana serunya memiliki anak dari orangtua dengan latar belakang negara dan budaya berbeda?
Membesarkan Armand di dua negara berbeda, di dua benua yang berbeda sangat exciting ya. Sebab, memang ada perbedaan yang mendasar tentang pola pendidikan kita yang dididik dengan cara timur dan ayahnya yang berasal dari Amerika.

Apa saja perbedaan yang mencolok dan apa yang diprioritaskan oleh mbak dan suami?
Karena kita tinggal di dua tempat, kami beruntung bisa memberikan the best dari dua hal yang berbeda untuk diterapkan pada pola pendidikan anak. Dengan cara US, anak dididik dengan cara yang sangat mandiri. Mulai dari kecil, misalnya dia sudah diberi makanan yang bisa diambil sendiri dan lumer di mulut. Karena itu, sejak usia 8-10 bulanan, dia kalau makan tidak perlu disuapin sudah bisa sendiri. Ini kan beda dengan anak-anak di Indonesia pada umumnya ya.. Jadi memang Armand sudah sangat mandiri. Orangtuanya bisa sembari melakukan kegiatannya tanpa perlu khawatir si kecil ribut karena tidak diperhatikan. Sebab, memang di sana saya terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Jadi, saya rasa itu hal yang positif ya…

Sedangkan untuk pendidikan yang saya ambil dari lingkungan di sini (Indonesia-red) ya tentu pelajaran seperti misalnya nilai keagamaan yang kental.


Ada tidak awalnya resistensi dari orangtua di sini yang notabene pasti memiliki cara yang berbeda untuk mengajar anak?
Ini kan kebetulan memang cucu pertama dari keluarga besar saya ya. Jadi, memang awalnya ada sedikit resistensi. Saya awalnya dibilang kok tega sih. Misalnya kalau nangis, saya tetap tidak memperbolehkan dia digendong. Ini memang butuh ketegasan kita sebagai orangtua. Sebab, kalau biasanya di US dia paling didiamkan dengan diusap kepalanya, tiba-tiba di sini digendong, bayi kan pintar ya. Dia pasti bisa mikir, kok digendong enak ya, lama-lama kalau tidak digendong, dia bisa nangis terus. Ini yang saya nggak mau.

Atau misalnya juga ketika kita bepergian. Saya kan mesti menaruh anak di car seat. Kalau orangtua di sini kan pasti mending memangku anak kalau sedang di mobil. Tapi, demi kebaikan anak, saya terus berusaha menanamkan kemandirian itu. Sebab, saya inginkan yang terbaik buat perkembangan anak.


Bicara tentang perkembangan anak, sebagai ahli masak, Farah juga merasa perlu membatasi makanan si kecil agar tidak “terkontaminasi” makanan-makanan yang sebenarnya kurang baik bagi kesehatan, seperti gula, permen, atau jajanan yang sering kali dikemas dengan sangat apik.

Sebagai ahli masak, Mbak juga sangat selektif dalam memberikan makanan bagi si kecil ya?
Tentu saja. Sejak kecil, Armand memang selalu saya biasakan untuk mengonsumsi makanan yang sugar free. Sebab, lidah anak kecil itu kan masih sangat alami ya. Jadi, jangan sampai dirusak dengan makanan-makanan yang sebenarnya kurang baik bagi tubuhnya.

Apa si kecil tidak tergoda menikmati makanan-makanan seperti permen dan sejenisnya, layaknya anak kecil seusianya?
Karena memang sedari kecil saya selalu memberikan makanan manis yang alami, ya dia tidak tergoda. Misalnya untuk rasa manis, biasanya saya untuk makanannya saya campurkan pisang yang diblender atau kurma. Karena kebiasaan sejak kecil itu jugalah, kalau saya ajak pergi ke supermarket dia justru langsung menuju ke konter buah-buahan. Sebab, itulah makanan yang memang dia biasa makan sejak kecil. Baginya, buah-buahan itu mungkin rasanya sudah seperti permen. Karena itulah, dia tidak tergoda dengan anak-anak seusianya yang sudah doyan makan permen.

Kembali ke soal budaya yang berbeda tadi, apakah memang tidak pernah sekali pun si kecil bertanya atau berkeinginan makan seperti anak seusianya. Sebab, di sini tentu lingkungan sangat berpengaruh bukan?

Di sinilah perlunya ketegasan kita sebagai orangtua. Pernah suatu kali orangtua saya merasa kasihan dan ingin sekali membelikan Armand roti yang manis. Saya katakan tegas, no! Karena sekali dia coba, dia bakal pengen lagi dan lagi. Dan, ini justru akan merusak tubuhnya suatu saat nanti, tentu, sebagai orangtua kita tidak ingin ini terjadi bukan?

Jadi, apa saran untuk para ibu-ibu, berkaca dari pengalaman Mbak?

Kalau bisa, sebagai orangtua kita harus tega demi kebaikan anak. Sebisa mungkin, didik anak kita menjadi orang yang mandiri. Kita juga harus selalu memperhatikan makanan yang masuk. Demi kebaikannya, kita harus benar-benar memperhitungkan gizinya. Jangan hanya alasan enak saja, tapi gizi lebih penting. Sebab, jika dibiasakan makan-makanan yang bergizi dan alami, anak dari kecil pasti lebih gampang makan apa saja, terutama sayuran. Bagi mereka, itu sudah enak sekali karena memang dibiasakan demikian.