• LEARN
  • -
  • Experts Corner

Expert Interview

Wawancara Dengan Dita Mediasari S.psi

Kecerdasan Tak Melulu Pandai Berhitung

Saat ini, kecerdasan anak tak lagi hanya dinilai dari kepandaian berhitung dan bahasa. Berbagai penelitian menunjukkan, kecerdasan ada beragam cara pengelolaan, termasuk mengembangkan bakat sejak dini. Bagaimana sebenarnya konsep kecerdasan yang sebenarnya untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak? Berikut wawancara singkat MorinagaPlatinum dengan psikolog anak kita, Dita Mediasari:
 

Berikut wawancara singkat MorinagaPlatinum dengan psikolog anak kita, Dita Mediasari:

Q: Bagaimana cara paling mudah untuk mengenali bakat anak sejak dini?
A: Mengenali bakat sejak dini bisa melalui observasi orangtua terhadap minat-minat anak dan cara bagaimana anak-anak melakukan aktivitas-aktivitasnya sehari-hari. Bisa juga, secara "formal" orangtua berkonsultasi pada psikolog atau melakukan tes psikologi pada anak untuk mengetahui bakatnya. Melalui observasi, orangtua bisa melihat, misalnya anak kemampuan koordinasi motoriknya ketika main bola ternyata lebih baik (lebih lincah, lebih mudah mengarahkan bola dan lain sebagainya) dibanding anak lain. Nah, kemungkinan ia memiliki kecerdasan bodily-kinesthetic. Kemudian misalnya ketika mendengarkan lagu, ia bisa dengan mudah mengikuti ritmenya dan bisa berekspresi sesuai dengan irama atau lirik lagunya, maka mungkin ia memiliki kecerdasan musikal dan begitu seterusnya.

Q: Menurut teori Multiple Intelligence dari dokter Howard Gardner, ada 8 jenis kecerdasan. Apakah selalu masing-masing anak punya kecerdasan dominan tertentu?
A: Sebenarnya Dr. Howard Gardner membagi kecerdasan menjadi 8 bukan berarti tidak ada bentuk kecerdasan yang lainnya. Hanya saja, yang saat ini terdapat bukti empiriknya dan yang bisa dengan jelas terukur adalah 8 kecerdasan ini. Bahkan, sebenarnya banyak bentuk kecerdasan yang lain yang begitu kompleks dan "overlapping" di antara satu kecerdasan dengan kecerdasan yang lain. Nah kalau begitu, kecerdasan seseorang bisa jadi dikatakan dominan dalam satu area kecerdasan, tetapi kecerdasannya pastinya bukan hanya di area itu saja. Atau bahkan seorang anak memiliki suatu kecerdasan yang merupakan kombinasi dari beberapa area kecerdasan.

Q: Apakah jika sudah diketahui bakat anak, maka yang difokuskan untuk bekal suksesnya hanyalah dimaksimalkan di potensi yang dimilikinya tersebut?
A: Memaksimalkan bakat anak memang suatu hal yang tepat karena jika yang kita kembangkan adalah sesuai dengan bakatnya maka kemungkinan sukses dalam bidang tertentu akan lebih besar. Namun, jika HANYA DIFOKUSKAN SATU saja, ini kurang tepat. Mengapa? Ingat, bahwa anak adalah individu yang berkembang terus. Jadi bisa saja masih ada tersimpan bakat-bakat lain yang katakanlah masih terpendam. Kalau bakat-bakat terpendam ini tidak muncul karena kita terlampau terfokus pada satu area bakat saja kan sayang....

Q: Bagaimana pula kecerdasan dinilai dari IQ, EQ, SQ, ESQ, dan jenis tipe kecerdasan lain berperan dalam perkembangan kecerdasan anak secara keseluruhan?
A: Intinya yang dinamakan dengan kecerdasan itu adalah kemampuan seseorang untuk "deal with his/her environmant effectively", jadi IQ,SQ,EQ,ESQ, pada intinya menggambarkan bagaimana seseorang bisa beradaptasi menghadapi tuntutan-tuntunan lingkungan pada area-area spesifik (misal IQ ituberhubungan dengan kognisi/logika, EQ itu berhubungan dapatkah seseorang menangani tuntutan-tuntutan dalam area emosi dan sosial, SQ dengan kehidupan spritualnya sebagai hamba Tuhan, dan sebagainya). Perannya pada perkembangan kecerdasan anak secara keseluruhan adalah jika kecerdasan-kecerdasan ini dikembangkan dengan optimal maka anak juga diharapkan dapat menangani seluruh tuntutan lingkungan di berbagai area kehidupannya, baik itu sekolah, pertemanan maupun peribadatannya.

Q: Pada usia berapa, anak sebaiknya mulai dikenalkan dngan pelajaran-pelajaran tertentu, seperti memasukkan ke playgroup?
A: Mengenal huruf sebelumnya perlu diawali dengan pengenalan terhadap bentuk, ini sudah bisa diberikan ketika usia anak tiga tahun, berhitung diawali dengan pengenalan konsep jumlah. Misalnya dengan pertanyaan, ini berapa pisang? hitung satu... dua... tiga...juga usia 3 tahunan. Baru, setelah itu pengenalan simbol-simbol huruf dan angka. Kemudian soal masuk playgroup, sebenarnya itu sangat tergantung pada kesiapan anak, tapi kebanyakan anak usia 2-3 tahun sudah tergolong lebih.

Q: Saran apa yang bisa Mbak berikan untuk ibu-ibu untuk meningkatkan kecerdasan anak pada umumnya?
A: Banyak-banyaklah memberi stimulasi dengan cara memberikan banyak informasi (diajak ngobrol yang banyak) Misalnya: saat sedang makan tahu, katakan: “Ini namanya tahu Nak. Dibuatnya dari kacang kedelai, kalau belum digoreng warnanya putih/kuning. Kalau sudah digoreng warnanya kecoklatan. Kemudian, perbanyaklah juga menyediakan fasilitas buku-buku atau DVD atau film tentang alam, ajak ke kebun binatang, ajak hiking, dan kegiatan positif lainnya yang akan memperluas cakrawala pemikirannya.
 

Dita Mediasari S.psi

Psikolog alumni Universitas Padjajaran, Bandung. Sehari-hari bekerja sebagai dosen di Universitas Ahmad Yani, Bandung.