Jika sedari kecil anak terbiasa melihat perbedaan, ia berkesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang fleksibel. Pribadi seperti ini akan mudah membaur ke mana pun ia pergi.
Dafa : “Dio mau kemana tuh Ma?”
Mama : ”Mau ke gereja sayang.”
Dafa : “Apa tuh Ma gereja?“
Mama : “Tempat berdoa, Nak.”
Dafa : ”Dafa juga mau berdoa ke gereja Ma, sama Dio”
Mama : ”Kalau Dafa tempat berdoanya di mesjid. Kan Dafa suka ke mesjid kalau magrib sama papa.”
Percakapan di atas berlangsung di Minggu pagi, tak lama setelah Dafa melihat Dio, teman bermain yang tinggal di depan rumah yang masih sama-sama berusia tiga tahunan, bersiap-siap hendak pergi beribadah bersama seluruh anggota keluarganya.
Ya, konsep agama dan ketuhanan adalah hal yang masih abstrak bagi anak usia prasekolah. Mereka belum paham benar soal konsep agama dan Tuhan itu apa. Salah satu cara mengenalkannya adalah mengajaknya beribadah dan berdoa. Dari situ anak mulai mengenal agamanya sendiri.
Meski anak belum mengerti maksudnya salat, ke gereja, atau ke pura tetapi anak sebenarnya sudah bisa mengidentifikasi dirinya, ”Kata Mama aku ini Islam, jadi sebelum maem, ucapin Bismillah.” Atau, ”Nanti aku ngerayain Natal karena Papa sering ajak ke gereja.”
###
Nah, karena sebenarnya anak seusia mereka sebenarnya sudah sadar soal identitas perbedaan agamanya, maka soal agama bisa dijelaskan pelan-pelan, misalnya dengan menunjukkan ritual yang berbeda. Pemahaman si kecil tentang agama memang baru sebatas ritual, belum pada detil mengapa ada perbedaan keyakinan. Yang juga penting, orangtua perlu menjelaskan kesamaan moralnya. Misalnya, sama-sama berdoa sebelum makan untuk mensyukuri rezeki yang dilimpahkan Tuhan.
Mengajarkan perbedaan apa pun, entah agama, ras, suku ataupun warna kulit, selalu memperkaya khasanah anak bahwa dunia ini kaya perbedaan. Justru, kalau sedari kecil anak terbiasa melihat perbedaan, ia berkesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang fleksibel. Pribadi yang fleksibel akan mudah membaur ke mana pun ia pergi.
Yang perlu dilakukan orangtua adalah memberitahu dengan bijak cara beribadah yang benar sesuai dengan agama yang dianut. Selanjutnya, adalah tugas orangtua untuk menanamkan ritual agama dan keyakinan agama yang dianut tanpa menabukan adanya agama-agama lain. Tentunya penjelasan dari orangtua harus disertai contoh agar semakin dipahami anak sesuai perkembangan usianya.
Kuncinya adalah mengingat bahwa anak-anak – terutama batita – selalu meniru perilaku orangtuanya. Bila orangtua menunjukkan bahwa mereka menerapkan toleransi yang besar terhadap sesama, diharapkan demikian pula perilaku anak-anak. Karena itu, sebagai orangtua kita dapat mengajari anak-anak toleransi dengan berbagai cara. Misalnya, memberikan kesempatan mereka bergaul dengan orang-orang yang berbeda, dan sebagainya.