Masih banyak orangtua yang melarang anaknya bermain. Apalagi kalau mainnya keluar rumah. Masih relevankah?
“Saya takut dia jatuh, nakal sama temannya, berantem dan sebagainya, lebih baik anteng di rumah, nonton film kartun, main mobil-mobilan, main komputer atau belajar mengambar dan menulis di rumah,” Bunda Auni menceritakan si kecil Angga (3) kepada sahabatnya sewaktu arisan.
Bunda, dunia anak itu adalah dunia bermain. Mau bermain di luar atau di dalam rumah, sama saja, yang penting intinya adalah bermain. Bunda tak perlu khawatir berlebihan. Bila si kecil menakali temannya, atau berantem, itu adalah bagian dari proses si kecil bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Perbedaan lingkungan bermain, tentu memiliki plus dan minus bagi perkembangan tumbuh kembang si kecil. Di jaman sekarang, permainan seperti galasin, kasti, main karet, dampu, petak umpet, sudah sulit kita jumpai, apalagi dimainkan oleh anak-anak kita. Semua permainan itu biasa dilakukan di luar rumah, membutuhkan kemampuan fisik—karena harus berlari dan melompat—serta berinteraksi dan bekerjasama dalam tim.
###
Sekarang, orangtua lebih senang menyekolahkan si kecil diusia batita, mengajarkannya main edu game di komputer, membelikan si kecil seabrek CD film kartun, dan lain-lain. Aktivitas fisiknya paling hanya bersepeda. Intinya, sebagian anak sekarang memang kurang bermain yang mengandalkan fisik atau interaksi dengan sesama, sehingga tanpa sadar mereka tumbuh jadi pribadi yang individualistis.
Sebuah hasil riset Play and Physical Quotient (PQ) atau riset kemampuan fisik dan bermain anak menunjukkan, anak Indonesia menempati urutan terendah dibandingkan dengan Thailand, Vietnam dan Jepang. Dari hasil riset tersebut terungkap bahwa aktivitas yang paling sering dilakukan anak-anak setiap hari adalah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan menonton televisi. Namun kegiatan waktu luang mereka berbeda-beda.
Misalnya, anak-anak di Thailand menghabiskan waktu istirahatnya untuk membantu orangtua mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, sementara anak-anak di Jepang bermain di luar rumah. Anak-anak di Vietnam memakai waktunya untuk berolahraga, sedangkan anak Indonesia lebih suka membaca buku dan bermain komputer.
###
Nah, sebaiknya agar seimbang, bebaskan anak memilih permainan yang ia suka, namun tetap dalam pengawasan orangtua. Ingat, usia batita adalah usia bermain Bun, bahkan belajarnya pun harus dilakukan dengan cara bermain! Jadi, berikan mereka keleluasaan untuk bermain, dimanapun, dan kapanpun. Ayo, bermain!