Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Toddlers > Parenting > Communicating With Your Child > Malas Menyahut Jika Dipanggil | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Malas Menyahut Jika Dipanggil

Kesal karena merasa anak tidak peduli dan tidak patuh? Yuk, kenali kenapa si kecil jadi “cuek” begitu.

“Dikaaaaa…., ayo ganti baju, ikut Mama ke rumah Tante Ani yang lagi sakit. Dikaaaa, Dikaaaa…!” Yang dipanggil-panggil tak beranjak dari tempat duduknya. Dika yang masih berusia dua tahun malah asyik bermain mobil-mobilan di ruang keluarga. Ia bahkan tampak sama sekali tidak peduli sang mama memanggil-manggil.

Kebanyakan orangtua pasti kesal mendapati anaknya tidak menurut. Apalagi kalau sampai tidak mau menyahut saat dipanggil. Sehingga komentar seperti, “Kok, tidak jawab panggilan Mama, tidak punya mulut ya?” atau ”Adek nggak punya kuping ya, Mama teriak-teriak masih nggak denger?!”

Jika Anda mengalami hal yang sama dan merasa si kecil tak peduli pada Anda, jangan khawatir, sebenarnya ia peduli kok. Hanya saja, yang dipedulikan pada saat itu adalah pikirannya, bukan pikiran Anda. Kalau ia sedang tampak tak peduli, berarti ia sedang tidak ingin berbagi pikiran dengan Anda.

Apa ini yang disebut ini ketidakpatuhan? Belum tentu. Toh si anak tidak mengatakan ”saya tidak akan mau!”, bahasa tubuhnya cuma menunjukkan ”saya tidak mau”.

###



Memang, biasanya semakin kuat keinginan si anak, semakin kuat pula protesnya. Nah, bisa jadi anak Anda tergolong tipe yang berkemauan keras. Anak dengan tipe ini  cenderung tidak mau membelokkan pikiran dengan cepat. Ketika tingkah lakunya mengatakan bahwa ia tidak mau, maka tugas orangtua untuk membantu keinginannya atau untuk melakukan bantuan fisik (mengangkat tubuhnya) dengan tenang, mendorong ia untuk mau melakukan tindakan sesuai perintah Anda. Sedangkan bagi anak dengan tipe mengalah, mungkin akan lebih mudah bagi Anda untuk meminta perhatiannya.

Umumnya, bagi anak yang baru bisa berjalan, bisa jadi mereka sangat terpikat dengan permainannya sehingga mereka protes ketika diminta untuk berhenti dan meninggalkan mainannya. Kuncinya adalah komunikasi dengan bahasa yang dimengerti sang anak. Orangtua tidak perlu naik pitam, atau mengeluarkan kata-kata yang keras bahkan cenderung memarahi. Tetap sikapi sabar dan dengan bahasa lisan dan bahasa tubuh mudah dipahami anak. Misalnya, saat Anda memintanya beristirahat dari aktivitas bermainnya itu, mintalah ia untuk berpamitan pada seluruh mainannya itu. ”Nah, sekarang waktunya istirahat, tapi Adek harus berpamitan dulu dengan mobil-mobil ini. Ayo berikan salam perpisahan, dadah bus, dadah truk, dadah mobil tangki, dadah semua...!”
 
Sikap yang mengisyaratkan perpisahan ini membantu mereka untuk menghentikan aktivitas bermainnya secara layak seperti bab penutup dalam setiap buku. Ini juga membantu orangtua untuk menyadari bahwa anak batita yang baru mulai berjalan adalah manusia kecil yang punya keinginan kuat, sehingga yang dibutuhkan adalah komunikasi dengan cara yang kreatif, bukan dengan memaksa, apalagi memarahi.

Related Article

Indeks Back to Top