Fase belajar dalam pengendalian-diri atau self-control merupakan tonggak yang sangat penting bagi perkembangan bayi. Karena akan sangat menentukan kecerdasan moral bayi di masa depan.
Menurut Chynthia Stifter Phd, dari Universitas Pennsylvania, Amarika serikat, pengendalian-diri itu menyangkut pada dua hal pokok.
Pertama, kemampuan bayi/anak untuk mengendalikan dorongan-dorongan melakukan sesuatu (tindakan) dan mengendalikan diri akan keinginan pada sesuatu (barang).
Kedua, kemampuan anak/bayi untuk selalu mematuhi dan menghormati norma sosial tanpa pengawasan. Dua hal ini dilakukan dengan penuh kerelaan/ikhlas.
Selanjutnya Stifter juga mengatakan, keterampilan mengendalikan diri berkembang melalui tiga fase.
Fase pertama, yaitu sampai anak berusia sekitar 0-9 bulan, disebut fase kontrol. Beberapa bayi kadang sampai usia 18 bulan. Anak-anak usia ini perilakunya masih dikendalikan dari luar, oleh orang dewasa di sekitarnya.
Fase kedua, disebut fase self-control atau pengendalian-diri, ditandai dengan kesadaran anak melakukan kewajiban tanpa pengawasan.
Fase ketiga atau yang terakhir, adalah kemampuan anak menyesuaikan dan mengatur diri dalam berbagai kondisi.
Proses pembelajaran Pengendalian diri ini terutama diperlukan pada bayi usia 3 tahun ke-atas, pembelajarannya sudah diperlukan sejak Batita.
Hal ini karena usia Batita, batin kadang-kadang menunjukkan sikap anti sosial, seperti melempar-lempar semua barangnya, tidak mau ditinggal, suka mengamuk/menangis jika keinginanya tidak terpenuhi atau merebut mainan temannya dan kemudian tidak mau berbagi.
###
Anak-anak dalam usia antara 2-3 tahun berada dalam masa ‘tidak.’ Mereka cenderung berlaku negativistik, menentang apa saja yang ditawarkan kepadanya.
Selain itu kadang pada usia ini, orang tua juga menerapkan harapan yang terlalu tinggi anak, dan ingin apapun keinginan dan omongan orantua akan dipatuhi oleh anak, sehingga kadang malah menimbulkan sikap oposisi pada anak.
Dan ekspresinya sering kasar atau negativistik. Disini orang tua harus sadar dan sabar menghadapinya.
Perkembangan ini adalah normal dalam tahapan perkembangan kepribadiannya, yang kemudian diperlukan adalah ‘treatmen’ atau perlakukan yang tepat dari orang tua dan mencoba memahami dan meluruskan kehendak Si Buah Hati.
Untuk mengajarkan padanya agar bisa mengendalikan diri, dan menghormati orang lain. Pada masa itu, sering kalau orangtua menawarkan sesuatu, anak sering menolak.
Karena itu mengatakan, “Adi sudah lapar atau belum ?” atau “Rita sudah mengantuk belum ?” Apabila waktunya mandi, makan atau jadwal tidur tiba, jangan ditanyakan atau diingatkan lagi pada anak, akan tetapi suruhlah ia makan, tidur, atau mandi.
Tentu saja dengan sikap yang tidak melecehkan atau mengganggu kesukaannya, bila sedang bermain. Apabila orantua sering melonggarkan aturan disiplin yang ditetapkan, maka anak akan cenderung melanggar.
Untuk itu orangtua harus bersikap tegas.
###
Umur 12 – 18 Bulan
Pada usia ini, anak kadang sudah bisa diajak berkomunikasi. Tetapi pada usia ini pula, kadang ia bertindak memberontak. Misalnya jika Anda meminta pada Si Buah Hati, “jangan teriak-teriak.”
Mungkin si buah hati akan mengabaikan, bahkan kadang-kadang teriakannya akan lebih keras. Untuk itu Anda perlu melatihnya agar ia bisa mengendalikan diri, dengan jalan memberikan alasan dan memintanya dengan hangat agar berhenti berteriak.
Tetapi jangan berharap terlalu banyak dia akan mematuhi, Anda tetap harus hangat dan antusiatik padanya. Jangan marah. Menurut Judith Hudson, pakar psikologi anak dari New Jersey, “Jika Anda hangat, sabar dan tidak berharap terlalu banyak dari Si Buah Hati, justru ia akan lebih ko-operatif daripada bersikap oposisi.”
Tunjukkan rasa terima kasih dan kebahagiaan Anda jika dia menuruti permintaan Anda, tetapi siaplah untuk pindah tempat atau sedikit mengalah menjauhinya sementara, jika dia menolak permintaan Anda.
###
Umur 19 – 24 Bulan
Ini adalah usia dimana Si Buah Hati suka mengganggu dan bertengkar. Dia bisa bertindak; satu menit bermain bola dengan akrab bersama teman-temannya, berikutnya ia akan menggigit temannya, menendang sahabatnya sampai menangis, dan membuat kacau balau suasana.
Kemudian ia akan mengatakan pada orang lain, apa yang mengganggunya, sehingga ia bertindak seperti itu. Dan dia akan bertindak kasar lagi.
Menurut pakar anak-anak Nina Lief, “Perilaku ini muncul karena ia ingin melakukan apa yang oleh orangtua-nya larang padanya (agar tidak menggigit, agar tidak menendang, atau agar tidak menyerang orang lain).
Ia melakukannya dengan gerak hati, bukan dengan rasionalisasi. Sesungguhnya ia ingin memberontak dan melampiaskan rasa frustasi atas banyaknya harapan orang tua padanya.
Ia sebetulnya tidak ingin menyerang teman-temannya, tetapi ingin melampiaskan rasa frustasinya sendiri.” ***