Menurut teori Erik Erikson tentang tahapan perkembangan anak. Salah satu tahapan penting dalam masa perkembangan anak adalah fase otonomi. Fase ini ditandai dengan antusiasme anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri dan munculnya hasrat untuk mandiri.
Keinginan ini tumbuh seiring dengan berkembangnya kemampuan intelektual maupun fisiknya. Pada fase otonomi ini, anak berusaha memiliki kontrol atas dirinya sendiri.
Aktivitas yang paling menonjol adalah makan – minum (feeding) dan toilet training. Lewat feeding, anak merasa bahwa dirinya sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol diri dan melakukan sendiri, ia mulai ingin melakukan makan atau minum sendiri tanpa dibantu atau disuapi.
Begitu juga dengan toilet training, Si Bayi merasa sudah mampu mengatur keperluanya untuk buang hajat kecil (kencing) maupun hajat besar (buang kotoran). Ia merasa sudah berani dan punya kesadaran sendiri untuk pergi ke toilet setiap hasrat buang hajat muncul.
Sebagian besar anak masa Batita sudah mampu melakukan kedua aktivitas ini, tetapi ada juga beberapa bayi yang belum berhasil melakukannya.
###
Pada masa otonom ini, anak mulai menyadari bahwa dirinya merupakan individu independen yang terpisah dari orang lain. Ia menyadari bahwa ibunya adalah orang lain.
Begitu juga, ayah, kakak-kakak, atau pengasuh adalah terpisah dari eksistensi dirinya. Pada umur ini Ia juga mulai mengurangi keinginan menyusu pada ibunya, atau yang dalam tradisi Jawa, anak mulai ‘disapeh’ artinya mulai dipisah/berjarak dari ibunya.
Itulah mengapa bayi pada usia Batita seringkali tidak mau melakukan perintah/permintaan orang tuanya lagi, bahkan cenderung ‘memberontak.’
Penolakan ini merupakan manifestasi kontrol atas dirinya sendiri dan itu merupakan hal normal untuk pada usianya. Seiring waktu, ketrampilan yang dia kuasai semakin bertambah pula :
*Memakai garpu dan sendok : semula hanya dianggap mainan, beberapa bayi sudah mampu menggunakannya (memegang, menggenggam, dan menggerakkan sesuai fungsinya) pada usia 13 bulan.
Tetapi kebanyakan anak menguasai ketrampilan ini pada umur 17 atau 18 bulan. Baru pada umur sekitar 4 tahun dia bisa menggunakannya seperti etika orang dewasa di meja makan.
###
* Melepaskan baju sendiri : biasanya terjadi pada anak usia 13 – 20 bulan. Inilah kenapa banyak Batita suka telanjang.
* Melakukan sikat gigi sendiri : biasanya mulai pada anak usia 16 bulan. Tetapi kadang pada beberapa anak baru bisa melakukan pada ulang tahun yang ke-3 atau ke-4.
* Mencuci dan mengeringkan tangan : ketrampilan ini akan berkembang pada usia 19-30 bulan. Pada waktu yang sama ia juga mulai mengenal toilet. Ini merupakan ketrampilan penting untuk dikuasai, bukankah Anda ingin dia selalu hidup bersih.
* Memakai baju sendiri : mula-mula ia belajar menggunakan baju yang berukuran longgar pada umur sekitar 20 bulan, dalam beberapa bulan kemudian ia sudah bisa memakai T-Shirt dan 2 tahun kemudia ia sudah bisa memaki berbagai banyak model. Pada bulan ke-27, kadang ia juga sudah bisa memakai sepatu dan kaos kaki sendiri.
* Memakai toilet : kebanyakan bayi belum siap secara fisik memasuki toilet sebelum usia mereka 18-24 bulan. Bahkan ada beberapa anak yang baru mau masuk toilet setelah umur 3 tahun.
Ini semua tergantung, mulai kapan ia telah mahir menguasai ketrampilan melepas celananya dan mengeluarkan alat kelaminnya untuk buat hajat. Orang tua perlu membimbing ketrampilan ini dan melatihnya agar tidak takut memasuki toilet.
* Makan sendiri : banyak anak umur 3 tahun yang sudah mampu memegang mangkuk cereal dan memakannya sendiri ketika meraka lapar, tetapi mayoritas anak baru bisa melakukan makan sendiri tanpa disuapin pada umur 4 – 4,5 tahun.
###
Perlakuan
Untuk mempercepat kemampuan otonomi-nya, orang tua sebaiknya memberikan latihan-latihan dan rangsangan yang luas, bimbingan sangat diperlukan, karena Batita, pertama-tama mempelajari berbagai aktivitas itu dengan menirukan perilaku orang tua :
1. Kurangi ketergantungan secara bertahap Kurangi tingkat keter-gantungan anak pada sosok yang dijadikannya sebagai patron. Entah itu kakak, orangtua, pengasuh atau lainnya.
Karena Ia terbiasa meniru perilaku patronnya. Lakukan perubahan secara bertahap. Misalnya saat ia bertanya, "Pakai baju biru atau merah ya, Kak?" Pancinglah dengan pertanyaan, "Kamu suka yang mana, biru apa merah.
Biar nanti kakak yang nyamain." Latihlah dengan kondisi yang mengharuskannya ia menentukan pilihan.
2. Tawarkan lingkungan yang lebih luasLingkungan yang lebih luas akan membuka pikiran Batita mengenai banyaknya alternatif di luar sana. Berkumpul dengan teman sebaya merangsang anak untuk mengobservasi perilaku teman-temannya yang lain.
3. Beri kepercayaan
Biarkan Si Bayi memilih sekaligus mengung-kapkan alasan mengenai pilihannya. Kalaupun pilihannya kurang tepat, segera luruskan, tanpa membuat Batita kecil hati.
###
4. Beri pujian Berikan pujian secara proporsional pada anak. Pada kasus ini, pujian akan membuatnya bersemangat. "Tadi adik yang milih karet rambut sendiri, kan? Wah, cantiknya. Pilihan kamu oke juga."
Pujian ini akan menum-buhkan kesadaran bahwa dirinya pun bisa memilih sama bagusnya dengan pilihan kakak, pengasuh, tante, nenek atau siapa pun. Dari hal sederhana ini ke depannya akan tumbuh rasa percaya diri dalam lingkup yang lebih luas.
5. Sesekali biarkan "kebingungan"
Tak ada salahnya sesekali orangtua membiarkan anak "kebingungan". Misalnya dengan memberikan pengasuhnya cuti beberapa waktu atau mengantarkan kakaknya ke rumah nenek dan tinggal di sana selama libur panjang.
Selama itu pula orangtua harus memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajari si Batita melakukan/memilih segala sesuatunya sendiri, tanpa meniru kakak/pengasuhnya lagi.