Keramas? Ugghhh..! Gak Mauuuu. Umumnya begitu umpatan si kecil bila tiba waktunya keramas.
Berbicara tentang mandi, apalagi kalau berurusan dengan main air, biasanya anak-anak suka. Tapi kalau sudah diajak keramas...hmm, bisa jadi si kecil malah langsung mentas dan ogah mandi lagi. Menghadapi kejadian seperti ini, hati-hati loh, kalau Bunda tidak sabaran, kelak si kecil bisa trauma. Keramas memang kadang jadi aktivitas yang kurang menyenangkan buat si kecil, apalagi risiko mata pedih akibat kemasukan sampo sangat besar.
Seperti halnya rambut orang dewasa, rambut anak pun tak lepas dari kotoran. Zat berlemak yang mengendap di kulit kepala si kecil berasal dari minyak yang dikeluarkan oleh kelenjar rambut. Pengotor lain adalah sel-sel mati dari kulit ari atau epidermis, yang merupakan lapisan permukaan kulit. Apalagi, kepala bayi tak memiliki cukup rambut untuk menyerap seluruh minyak yang dihasilkan oleh kelenjar lemak di kepalanya, sehingga sering mengakibatkan terjadi penumpukan kotoran di kepalanya, yang menyebabkan timbulnya jamur. Itulah sebabnya kenapa si kecil juga perlu keramas.
Anak yang jarang dikeramasi, pertumbuhan rambutnya bisa jadi akan sulit berkembang. Jika tumbuh pun, rambut si kecil akan kelihatan kaku dan tak menarik, ini karena kulit kepala yang kering dan bersisik. Berbeda dengan anak yang selalu rutin dikeramas, kulit kepala akan selalu bersih, sehingga jamur tak bisa berkembang, rambutnya akan tumbuh dengan baik dan lembut jika dipegang.
Memang, tak ada patokan baku apakah harus setiap hari atau cukup 2-3 hari sekali. Anak yang banyak aktivitas tentu sering berkeringat, hingga perlu keramas lebih sering. Yang pasti, jangan menunggu sampai kulit kepala terasa gatal, berketombe, atau bahkan ditinggali kutu rambut.
###
Tidak mudah membujuk si kecil untuk keramas. Namun orangtua yang bijaksana pasti dapat menemukan solusinya, tentu saja dengan cara yang kreatif. Tips berikut ini barangkali efektif diterapkan untuk si kecil yang malas keramas.
Pertama, ajarkan anak untuk menunduk atau sekalian menengadah saat membilas sampo. Ini untuk menghindari air bilasan mengenai wajah dan masuk ke mata atau telinga anak.
Kedua, guyur air bilasan dengan pitcher atau gayung yang dapat diatur volume airnya agar tidak ‘kebablasan’ mengguyur muka anak.
Ketiga, ajarkan anak untuk menutup mata saat dibilas. Bila semua sudah dicoba dan masih belum berhasil juga, tutup telinga anak saat membilas.
Jangan lupa untuk menggunakan sampo rambut yang tepat sesuai kondisi rambut anak agar rambut dan kulit kepala terpelihara kebersihannya. Pemilihan sampo khusus anak juga harus diperhatikan.
###
Sampo untuk anak berbeda dengan sampo untuk orang dewasa, perbedaannya terletak pada jenis deterjen yang digunakan. Deterjen pada sampo untuk orang dewasa lebih aktif dan dapat menimbulkan rasa perih jika terkena mata. Sekalipun tidak berbahaya, namun rasa perih itu sungguh tidak nyaman bagi anak, bisa-bisa si kecil tidak mau dikeramas lagi.
Karena itulah sampo anak dibuat dengan menggunakan deterjen yang lunak dan tak perih di mata. Sekalipun lunak, daya pembersih sampo anak cukup baik. Untuk menambah daya tarik, banyak sampo anak diberi zat warna dengan aroma bunga atau buah-buahan, tujuannya untuk membuat si kecil suka keramas, meskipun pada kenyataannya keramas masih saja menakutkan anak-anak.
Yang penting, bunda jangan putus asa untuk mengajak si kecil rutin keramas demi kesehatan rambut dan kulit kepalanya. Dan, orangtua pasti juga akan senang kan kalau si kecil dikomentari, “Hmmm, rambutnya haruuuum…!”