Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Toddlers > Child Care > Bathing & Grooming > Jangan Main Air Terus Sayang... | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Jangan Main Air Terus Sayang...

Banyak manfaat dari bermain air. Tapi tetap perlukah si kecil dibatasi?

Kesenangan batita bermain air hampir pasti tidak bisa disangkal. Kadang dia bermain air, tak melihat tempat.  Genangan air di halaman, hujan, bahkan air di dalam selokan yang berwarna cokelat pun akan menjadi sasaran eksplorasinya. Tak heran, begitu melihat air menetes dari kran, si kecil biasanya langsung menadahkan tangan atau memutar-mutar kran. Ketika merasakan titik-titik air yang turun kala hujan, ia langsung melonjak-lonjak kegirangan. Atau saat melihat air di ember dia akan langsung mengobok-oboknya. Berbagai pengalaman baru tersebut membuat ketertarikan anak pada air seolah tiada habis-habisnya.

Boleh jadi ketertarikan batita pada air juga didukung oleh kemampuan motoriknya yang jauh lebih baik dari tahapan usia sebelumnya. Aneka gerakan bisa dilakukannya secara lebih baik, seimbang, dan semakin terkoordinasi. Berbekal kemampuan motorik inilah anak bisa leluasa dan semakin asyik bermain air. Dia bisa menyepak genangan air, menggenggam selang air, menumpahkan air dari ember, menciduk dengan gayung kecilnya, ataupun sekadar mengobok-ngoboknya.

Fase eksplorasi memang memungkinkan anak usia ini sedemikian tertarik pada hal-hal baru di sekelilingnya. Kejernihannya, "keajaiban" yang membuat air bisa disentuh tapi tak bisa ditangkap, terasa dingin maupun hangat, dan ada di mana-mana, jelas membuat anak penasaran terhadap air. Belum lagi air ternyata bisa mengalir, memancar, muncrat yang membuat anak tak henti-hentinya ingin terus bermain air. Makanya, meski sudah terlihat kedinginan, dia masih saja asyik bermain air.

###

Meski main air sangat bermanfaat, orangtua tetap harus punya aturan main demi kesehatan dan keamanan si kecil. Penerapan aturan juga perlu agar anak tetap punya waktu untuk melakukan aktivitas lainnya. Seperti misalnya, main air tidak berarti membuang-buang air. Bermainlah sambil melakukan kegiatan bermanfaat seperti, menyiram tanaman, mandi, mengisi akuarium, dan semacamnya.

Usai mandi dan berpakaian rapi, tentu kita perlu mengalihkannnya dari keinginan bermain air kembali. Di sini orangtua perlu menjelaskan dengan kalimat sederhana apa alasannya.

Nah ini yang penting, jangan pernah meninggalkan anak batita main air sendirian tanpa pengawasan. Sangat mungkin terjadi anak diam-diam masuk ke kamar mandi yang berlantai licin. Sebagai langkah antisipasi, tutuplah selalu pintu kamar mandi rapat-rapat agar anak tidak bisa masuk begitu saja. Begitu juga dengan peletakan ember berisi air atau benda-benda lain yang berpeluang "mengundang" bahaya. Ulah diam-diam biasanya dilakukan bila anak tak puas bereksplorasi dengan air akibat kekangan ini dan itu. Bila kita cukup memberi waktu hingga kebutuhannya bereksplorasi terpenuhi, lazimnya batita tak lagi melakukannya diam-diam.

Langkah berikutnya adalah membujuk atau mengalihkan perhatiannya dengan hal yang lebih menarik jika anak sudah tampak kedinginan dan perlu diangkat dari air. Jadi, bukan dengan memaksa. Pembatasan waktu main air juga perlu dilakukan ketika daya tahan tubuh anak sedang agak menurun, semisal baru sembuh dari sakit atau lelah sehabis bepergian.

###

Yang jelas, manfaatkan kegemarannya main air terhadap hal-hal yang positif. Misalnya, tentang sifat dan manfaat air. "Lihat nih Dek, airnya mengalir." Atau, "Airnya terasa hangat ya, Nak. Dengan dibasuh air kulitmu jadi bersih." Orangtua pun bisa memberi penjelasan sederhana sambil mencipratkan air ke tubuhnya, mencucikan tangannya, atau melarangnya saat ia ingin minum air dari kran. "Adek gak boleh minum air ini karena belum dimasak." Dengan begitu, pengetahuan anak tentang air akan terus bertambah luas.

Related Article

Indeks Back to Top