Anak menangis saat ditinggal kerja ternyata bisa disiasati. Dengan cara yang benar, hal ini juga bisa mengasah kepekaan sosialnya.
Bunda Ian, kini nyaris tidak bisa keluar rumah sedetik pun tanpa Ian meski itu hanya pergi ke warung di dekat rumah. Ian sudah kadung lengket dengan sang bunda. Si kecil itu akan menangis dan menjerit sejadi-jadinya saat mendapati bundanya pergi tanpa ia ikut serta.
Kecemasan saat berpisah merupakan salah satu ciri tahapan perkembangan batita. Ini terjadi karena sejak kecil, anak mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Jika anak sudah telanjur nyaman bersama sang bunda, maka ia sulit menerima sosok selain orang itu. Bunda umumnya figur terdekat di usia ini, karena bundalah yang banyak terlibat dalam pengasuhan dan pengurusan anak. Apakah itu menyusui, memandikan, memberi makan, bermain, hingga menidurkan. Dengan begitu, anak sulit lepas dari sosok terdekatnya itu.
Akibatnya, acap kali kita mesti berbohong pada anak jika ingin bepergian. Baik dengan cara pergi secara sembunyi-sembunyi, mengiming-imingi si kecil dengan hadiah, pergi tergesa-gesa, atau menunjukkan raut muka yang sedih. Tapi, tahukah Anda jika semua itu hanya akan menambah perasaan tak nyaman bagi si kecil. Bisa jadi tangisnya malah makin parah.
###
Lalu, bagaimana meredakan tangisan anak saat ditinggal pergi?
Pertama, beri tahu sejujurnya. Anak batita sebenarnya sudah mulai memahami perkataan orangtua. Orangtua jangan berpikir dirinya cerdik dengan mengelabui si kecil, berjalan mengendap-endap lalu pergi tanpa meninggalkan jejak. Sebelum berangkat, katakan dengan jujur agar si kecil tak harap-harap cemas. Jelaskan juga bahwa bunda akan pulang dan segera menemani si kecil bermain lagi.
Kedua, lakukan ritual positif. Sediakan waktu sekitar 10-15 menit sebelum berangkat kerja untuk bermain dengan si kecil.
Ketiga, buat aktivitas. Mintalah pengasuh agar melanjutkan aktivitas Anda dengan si kecil. Memang, itu tak serta merta membuat anak berhenti menangis, tapi setidaknya fokusnya akan teralihkan, dan diharapkan kembali tenang.
Keempat, berpamitan. Jangan pernah lupa dengan yang satu ini. Ucapkan kata-kata perpisahan yang ’khas’, misalnya dengan melambaikan tangan atau memberi kiss bye. Si kecil juga bisa diajak mengantar bunda hingga ke pintu rumah.
Kelima, ajak bermain di luar. Pergi bersama keluar rumah bisa menjadi solusi. Ditemani pengasuh, si kecil bisa bermain di lapangan, taman, atau tempat bermain di sekitar rumah. Cara ini cukup efektif meredakan kerewelan anak.
###
Keenam, monitor perilaku pengasuh. Semua cara sudah dilakukan, tapi si kecil tetap tak mau ibunya lepas. Jika ini terjadi, bukan kelekatan yang menjadi biang keladi, tetapi mungkin ulah buruk pengasuh yang jadi penyebab. Boleh jadi, anak tak mau ditinggal karena merasa tidak aman akibat sering dimarahi, dikekang aktivitasnya karena overprotektif, atau si pengasuh bukan orang yang asyik untuk menemani bermain. Semua itu meninggalkan trauma. Tak heran, dia tidak mau tinggal sendiri dengan orang yang tak disukainya.
Ketujuh, ajarkan sosialisasi. Agar anak rela berpisah sementara dengan ibu, sejak awal sebaiknya berikan kesempatan mengasuh anak kepada ayah, orang di rumah, atau nenek dan kakek yang dapat menjadi figur terdekat si kecil. Lewat cara itu, anak menganggap lingkungannya sangat aman dan menyenangkan.
Kedelapan, penuhi kebutuhan anak. Penuhi selalu kebutuhan anak dengan tepat dan proporsional. Lakukan permainan yang menyenangkan bersamanya, makan, beristirahat, berdoa, serta kebutuhan-kebutuhan lain selama ibu tidak ada di rumah. Tunjukkan kepada si kecil bahwa figur-figur lain di rumah mampu memberikan hal sama.
Dengan membiasakan si kecil mandiri saat ditinggal bundanya, hal ini akan mengasah kemampuan sosial anak. Jadi, Bunda, selamat mencoba!