Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Newborn and Baby > Parenting > Teaching Social Skills > Bermain Bersama Teman Lebih Tua | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Bermain Bersama Teman Lebih Tua

Meski anak usia batita belum pandai bersosialisasi, tapi mereka sudah pandai  memilih teman yang cocok baginya, loh. Anak biasanya akan memilih teman yang dirasa bisa membuatnya nyaman saat bermain.

Izal, yang baru menjelang usia satu tahun, senang sekali bermain dengan Miko (9 tahun), sepupunya yang tinggal persis di depan rumah. Miko pun demikian. “Izal gemuk dan lucu,” begitu siswa kelas 3 SD itu mengomentari. Dan Izal, pokoknya apa-apa “Kak Miko“. Main sama Kak Miko, makan bareng Kak Miko, bahkan sekolah pun ingin ikut.

Bunda, bermain bersama teman yang lebih besar kadang memang lebih menyenangkan bagi si kecil. Tak heran karena lingkungan si kecil memang masih terbatas. Paling yang dikenalnya adalah orang-orang terdekatnya, bisa orangtua, pengasuh, om atau tante yang tinggal serumah, atau jika si kecil bukan anak pertama, kakak adalah teman bermainnya.

Karena itu, tidak heran kalau pada usia ini anak sangat menikmati permainan peran atau bermain pura-pura. Terutama mengikuti apa yang dilakukan oleh teman atau saudara yang lebih tua. Mungkin dianggapnya, mereka lebih dulu melakukan sementara dirinya baru mulai mencoba. Dan itu menjadi tantangan baru bagi si kecil.



###

Yang harus diingat, perilaku pura-pura ini didukung oleh keinginan anak untuk bereksplorasi dengan menunjukkan berbagai sikap. Selain itu, kemampuan motorik kasar dan halusnya juga sudah mendukung. Dia bisa berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya. Imajinasinya pun sudah mulai tumbuh. Hanya saja ada anak yang lebih cepat berproses, ada juga yang lambat melakukannya.

Jadi, meskipun perilaku anak sudah menunjukkan keinginan untuk bersekolah, mengikuti sang kakak, misalnya. Orangtua sebaiknya tidak perlu menanggapi keinginan si kecil dengan serius. Lihatlah gejala yang ditunjukkan anak. Biasanya, bila perilaku tersebut hanya timbul beberapa waktu saja dan setelah bosan ditinggalkannya, maka mungkin dia sekadar melakukan peniruan.

Namun untuk sekadar menyenangkan si kecil, tak ada salahnya ajak anak bermain ke sekolah kakak. Biarkan dia merasakan bersekolah itu seperti apa. Bila dia hanya asyik bermain di taman bermain, mungkin keinginannya memang hanya sampai di situ.



###

Bunda, saat si kecil mulai bersosialisasi terkadang memang terjadi transfer sifat atau karakter. Karakter anak sejak batita memang sudah mulai terlihat. Ada anak tipe sulit yang menangis melulu dan ogah diatur; ada anak tipe mudah yang gampang diatur dan sifatnya pendiam; dan ada anak-anak yang memiliki sifat gabungan dari dua karakter tadi. Karakter anak bisa berubah tergantung situasi dan kondisi, serta lingkungan yang mempengaruhinya. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhinya adalah orang-orang yang dekat dengan si anak. Biasanya makin lama dan banyak pengalaman, makin terbentuk karakter pribadi aslinya.

Selain itu, faktor perhatian pun bisa menjadi pemicu anak menjadi “pengikut“ orang/teman yang lebih besar. Entah perhatian itu berbentuk pujian, tertawaan, atau hal-hal lain yang bisa menyenangkan anak. Misal, saat anak meniru perilaku kakaknya yang suka menggaruk-garuk kepala, orangtua atau orang lain yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal atau minimal menyunggingkan senyuman. Nah, dengan tertawaan atau senyuman tadi anak merasa menjadi pusat perhatian, dan ia akan terus mempertahankan sikap meniru itu.

Untuk itu berikan perhatian yang khusus, saat memantaunya. Bila ia mengikuti perilaku yang positif, berilah pujian. Sebaliknya, bila perilaku negatif yang ia tiru dari “si dewasa“ beri si kecil teguran dan jelaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Tidak sulit kan, Bunda...?  

Related Article

Indeks Back to Top