Benarkah efek suara musik atau bunyi tertentu berpengaruh pada perkembangan kemampuan anak?
Banyak orang menduga, perkembangan otak janin sangat dipengaruhi oleh kejadian di luar rahim. Misalnya, jika Anda suka bernyanyi dan memainkan musik, kelak si kecil akan “ingat” musik tersebut.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pablo Casals, pemain cello yang lahir di sebuah kota kecil dekat Barcelona, Spanyol. Pada usia 4,5 tahun, dengan mudah ia memainkan lagu-lagu, meski belum pernah membaca partiturnya. Barulah tahu ia kemudian, bahwa ibunya—yang juga pemain cello—sering memainkan lagu-lagu itu ketika hamil tua. Tapi, benarkah musik menjadikannya anak cerdas?
Inteligensia merupakan hal yang kompleks. Karena itu, sampai sekarang, belum ada bukti bahwa musik secara langsung akan merangsang otak janin sehingga kelak bisa punya IQ tertentu. Yang jelas, sekitar 60–80% dari kecerdasan seseorang biasanya diturunkan secara genetik.
###
Tapi, si kecil yang terbiasa mendengar musik klasik yang tenang, memang cenderung jadi anak yang tenang. Ia juga gampang tidur nyenyak. Dan, tidur lelap ini ada hubungannya dengan perkembangan otak. Menurut beberapa penelitian, sel saraf di otak akan tumbuh pesat ketika anak tidur. Kalau ia tenang, tidur pun cukup. Perkembangan otak pun jadi maksimal.
Pada usia 3-6 bulan, bagian otak anak yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi, mulai tumbuh. Ia pun menikmati interaksi dengan orang lain. Para ahli meyakini ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tapi juga membantunya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama orangtuanya. Dari setiap respon orang dewasa yang diberikan di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.
Untuk membantu perkembangannya, cobalah untuk melakukan permainan kata atau mencoba membuat bunyi-bunyian bersama. Kemudian doronglah si kecil untuk mencoba menirukan bunyi-bunyian yang disukainya. Meskipun ia belum mengerti, Anda harus terus berinteraksi dengannya melalui obrolan, membacakan cerita atau bernyanyi untuknya.
###
Untuk menunjukkan perasaan tidak senang, anak pada usia ini sudah dapat menunjukkan ekspresinya dengan mengeluarkan suara-suara lain selain menangis. Jika ia merasa senang, ia pun dapat menunjukkannya dengan senyum, tertawa atau mendengarkan suara-suara menyenangkan lainnya. Intinya, si kecil sangat suka diperhatikan dan tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Sebaliknya, ia pun bisa menunjukkan rasa takut jika berada dekat dengan orang-orang baru.