Memasuki usia 2 bulan, si kecil mulai menunjukkan perilaku sosialnya lo Ma. Apa saja sih, yuk kita lihat!
Seperti biasa, ketika si kecil bangun tidur, Mama Dela selalu mengajaknya bicara apa saja. Yang berbeda, pagi itu mama mendapat respon: si kecil tersenyum! Ah, senangnya…
Perilaku ini bila diamati umumnya muncul kala perutnya kenyang, ingin bermain, atau ingin merespons pembicaraan. Untuk itu, sering-seringlah tersenyum pada setiap kesempatan kala melakukan aktivitas bersamanya. Contoh, saat mengajaknya bicara, memandikan, bermain, memakaikan baju, dan sebagainya. Dengan demikian anak merasa aman, senang, dan nyaman. Emosinya pun jadi terstimulasi dengan baik dibandingkan dengan mama yang jarang mengajaknya tersenyum atau bercakap-cakap. Kelak, ia akan tumbuh menjadi anak yang easy child, merasa aman dan percaya diri dalam mengembangkan kecerdasan emosinya.
Di usia ini perilaku sosial si kecil yang pertama muncul. Ketika menyusu pada ibunya, ia bisa menatap dengan penuh perhatian. Umumnya anak juga sudah mengenal suara orangtuanya dengan baik. Respons yang diberikan si kecil adakalanya dalam bentuk senyuman atau dengan suara yang dia keluarkan untuk mengungkapkan perasaannya. Respons dapat juga berupa kedipan mata, kernyitan dahi, atau ekspresi wajah dan gerakan tubuh lainnya.
###
Jika orangtua sering memberinya stimulasi, kemampuan sosialnya akan terus berkembang dengan baik. Untuk itu berikan stimulasi dengan sering memberinya sentuhan, baik berupa ciuman, usapan, belaian kasih sayang, dan lainnya. Lakukan interaksi dengan membacakan si kecil buku cerita, mendongeng, bernyanyi, mengajaknya bicara dan lainnya. Hal ini penting agar terjalin kontak erat dengan orangtua. Jangan lupa, kontak yang baik dengan orangtua membantu mengembangkan rasa aman pada diri anak serta menanamkan rasa percaya pada lingkungan.
Perlu dicurigai bila anak tidak merespons (dengan menyunggingkan senyum sosial) saat distimulasi. Banyak batita penyandang autisme ternyata saat di usia ini tidak menunjukkan senyum sosial. Jika ada dugaan ke arah sana, konsultasikan ke ahli untuk mendapat diagnosis pasti.
Selain mengungkapkan perasaan lewat tangisan, pada usia ini si kecil mulai mengeluarkan suara lo. Ia juga sudah merespons bunyi-bunyian yang ditangkap melalui pendengaran, baik suara keras maupun lembut. Umumnya, bunyi yang dikeluarkan adalah vokal "a" atau "e", terkadang ditambah selingan huruf "h", jadi "he" atau bunyi seperti aooh dan aaah. Jika anak mulai mengeluarkan suara-suara, jangan lupa untuk selalu memberinya hadiah seperti ciuman. Baginya, mengeluarkan suara-suara merupakan sesuatu yang menyenangkan. Sering-seringlah mengajak si kecil bicara, menyanyi, bersenandung, dan lainnya.
###
Pada usia ini kemampuan motorik halus berkaitan dengan kemampuan penglihatannya juga mulai berkembang. Pandangannya mulai terfokuskan (ia seperti memerhatikan tangannya saat berbaring). Anak juga sudah bisa melihat warna-warna terang, tak sekadar hitam-putih atau gelap dan terang saja. Untuk stimulasi gunakan mainan berwarna cerah yang ditempel, digantung, dan dipegang. Gerakkan mainan tersebut dari sisi ke garis tengah pandangan bayi. Ia akan belajar mengikuti arah benda bergerak.
Motorik halus pun terkait dengan koordinasi pendengarannya. Kemampuan pendengaran di usia ini juga berkembang. Ia mulai bereaksi terhadap bunyi-bunyian. Misal bunyi lonceng di dekat telinganya akan membuatnya memerhatikan dan tertegun. Anak pun bisa menaruh perhatian pada suara yang ada di sekitarnya, terutama suara ibu. Karenanya, seringlah memperdengarkan berbagai bunyi maupun suara. Si kecil pun bisa merasakan tekstur, seperti kasar atau halusnya pakaian.
Posisi tubuhnya sudah tidak terlalu menekuk seperti katak namun mulai meregang pada kedua tangan dan kakinya. Mobilitas yang dilakukan adalah bergeser saat berbaring, kedua kaki seolah ditendangkan dan menggeliat seperti melenturkan tubuhnya.
###
Ketika diposisikan telengkup anak sudah dapat mengangkat kepala, meski baru membentuk sudut 45 derajat. Memang kepalanya masih agak bergoyang-goyang karena kekuatan otot leher belum sempurna, namun sudah bisa bertahan sekitar 10 menit. Karena itu bila ingin menggendong si kecil, lehernya tetap perlu ditopang.
Untuk membantu menguatkan otot lehernya, si kecil perlu sering ditengkurapkan. Agar nantinya ia bisa tengkurap sendiri, sering-seringlah memiringkan badannya. Jangan sering menggendong anak, berikan kesempatan untuk bereksplorasi. Wow, sudah semakin pintar ya si kecil!