Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Newborn and Baby > Parenting > Teaching Linguistic Skills > Sang Peniru yang Jitu | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Sang Peniru yang Jitu

Jika orangtua memiliki sifat suka marah-marah, bukan tidak mungkin si kecil akan memiliki karakter yang sama saat dewasa nanti.

Luri (6 bulan) saat sedang digendong Mama tiba-tiba menjerit, kemudian menangis kencang. Mama pun bingung, usut punya usut ternyata Luri kala itu mungkin ikut merasakan suasana hati orangtuanya. Pasalnya, Luri menangis tepat saat kedua orangtuanya kelar bertengkar. Mama dan Papa jadi merasa bersalah.

Sering kali, orang dewasa menganggap kegiatan anak di bawah setahun hanya sebatas menangis, makan dan tidur. Mulai sekarang, Sebaiknya, orangtua berhati-hati dalam memperlihatkan emosi ketika berkomunikasi dengan anggota keluarga lain saat ada si kecil di sekitar. Sebab, sesungguhnya, sejak lahir anak sudah memiliki kemampuan untuk bisa mengenali berbagai tanda emosi dengan cara memperhatikan interaksi dan perkataan orangtuanya.

Bahkan si kecil juga bisa merespon perasaan tersebut. Anak berusia 0-3 bulan sudah bisa mengenali ekspresi senang atau sedih. Jika orangtuanya terlihat marah atau
panik, jangan kaget kalau tiba-tiba si kecil menangis. Ya seperti Luri tadi.
Karenanya, sebaiknya hindari bertengkar atau marah-marah di hadapan anak, meski sebenarnya sasaran kemarahan orangtua bukan pada si kecil.



###

Pada usia 3-9 bulan, anak sudah bisa menirukan ekspresi senang, sedih, takut, atau
lucu. Di usia 9 bulan, kemampuan emosi anak mulai berkembang. Meski si kecil belum bisa memahami apa itu senang, marah atau sedih, tetapi orangtua tetap
perlu berhati-hati agar tidak sering menunjukkan emosi negatif di depan anak.

Jika seorang ibu memiliki sifat suka marah-marah, bukan tidak mungkin si kecil
akan memiliki karakter yang sama saat dewasa nanti. Ingat Ma, si kecil bisa jadi peniru yang jitu loh. Tapi, meski tidak disarankan untuk sering menunjukkan emosi negatif, tidak ada salahnya sih jika Mama dan Papa sesekali menunjukkan wajah kesal agar si kecil bisa mengetahui variasi ekspresi normal dari manusia. Tetapi akan lebih baik jika Mama dan Papa  banyak menebarkan senyum dan tawa agar ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang periang.

Diketahui, anak berusia satu tahun sudah mulai menjadikan orangtuanya sebagai panutan. Ia bisa mengenali apakah sesuatu itu boleh dilakukan dengan cara mengenali ekspresi muka atau intonasi suara orangtuanya.



###

Di usia satu tahun, ia tahu apakah suatu benda berbahaya hanya dengan melihat ekspresi khawatir orangtuanya. Karenanya, Mama dan Papa tidak perlu mengobral teriakan atau jeritan jika si kecil hendak melakukan suatu hal berbahaya, cukup katakan jangan dan bimbing si kecil menjauhi hal tersebut.

Proses peniruan pada usia ini akan dilanjutkan ke proses identifikasi pada usia prasekolah. Jadi waspadalah, karena di usia ini berarti anak sudah siap menuju proses berikutnya. Ia bukan hanya akan mengambil gaya bicara dan tingkah laku kita, tapi juga pada karakteristik kita sebagai manusia dewasa.  

Nantinya, anak tidak hanya ‘membeo’ apa saja yang kita lakukan, tapi juga menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. Ia merasa dirinya adalah orang atau model yang ditirunya. Ia percaya, ia mampu melakukan apa saja yang dilakukan si model. Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengambil semua yang melekat pada diri model. Ia akan meniru cara si model makan, berpakaian, gaya berbicara, dan bertingkah laku. Bahkan karakteristik, kepercayaan/keyakinan, dan nilai-nilai orang tersebut juga akan diambilnya. Itulah yang dalam psikologi dikenal sebagai proses identifikasi.



###

Nah, orangtua sebagai orang yang terdekat harus berperan sebagai "penyaring". Kalau perilaku anak ternyata sudah kelewatan, seperti suka berbicara kasar dan jorok, orangtua mesti memberikan pengarahan. Jelaskan, itu bukanlah cara yang baik dan tidak patut dicontoh. Selain itu, berilah contoh konkret cara berbicara yang sopan dan santun. Jika tidak, maka perilaku itu akan terus terbawa hingga anak beranjak dewasa dan ia akan tumbuh dengan karakter yang buruk.   

Tenang saja Pa, Ma, peniruan merupakan proses alamiah kok, bagian dari perkembangan kepribadian setiap anak. Tak perlu dikhawatirkan berlebihan. Perilaku meniru justru menjadi penting karena dari proses belajar ini kognisi anak akan berkembang semakin optimal.

Related Article

Indeks Back to Top