Orangtua berperan mengenalkan anak pada pola bahasa, mengembangkan perbendarahaan kata, mendorong seni mendengar, dan melatih kemampuan visualisasi untuk menjadikan anak lebih kreatif.
Nayla (6 bulan) akan terdiam ‘takjub’ jika melihat dan mendengar orang-orang di sekitarnya berbicara. Meski belum mengerti, ia tampak menikmati mendengarkan obrolan Mama dan Papa saat itu. “Pokoknya kalau diajak ngobrol dia kayak sudah mengerti. Dia kelihatannya juga tertarik dengan gerak bibir dan mimik orang yang berbicara,“ kata Mama Nayla. Karena itu Mama sering sekali mengajak Nayla berbicara dan bercerita apa saja, meskipun si kecil baru bisa merespon seadanya.
Benar Ma, pada usia sekitar tiga bulan, misalnya, kemampuan si kecil menerima rangsangan masih terbatas. Meski begitu, stimulasi mulai dapat dikombinasikan dengan alat permainan yang menghasilkan suara lembut, dan gambar bentuk-bentuk sirkular.
Permainan dengan orangtua yang dapat dilakukan misalnya mengajak berbicara.
Kegiatan ini akan menjadi kegiatan interaksi timbal balik pertama anak karena lewat komunikasi ini anak mulai menanggapi reaksi lingkungan sekitarnya dan mengetahui hubungan sebab akibat.
###
Untuk itu, pada masa tiga tahun pertama, kegiatan bermain atau stimulasi pada anak sebaiknya lebih banyak menekankan pada sistem panca indera seperti pendengaran, penciuman, dan penglihatan. Karena, pada tahap ini anak mulai belajar dengan caranya sendiri seperti belajar duduk, merangkak, hingga berjalan. Jadi yang perlu ditekankan di sini adalah sense-nya, bukan aspek kognitifnya.
Demikian pula untuk anak usia 8-12 bulan. Ciri anak pada usia ini biasanya sudah bisa berpindah tempat dan belajar bicara. Permainan yang baik dilakukan pada tahap ini misalnya ciluk ba, sembunyikan benda, melihat buku bergambar, dan bercerita.
Karena itu, Ma, bercerita itu penting loh untuk menstimulasi perkembangan anak pada usia di bawah satu tahun, terutama perkembangan bicaranya. Jangan berhenti mengajak si kecil mengobrol ya...!