Hubungan emosional anak dengan ibu sudah ada sejak dalam kandungan. Anak bisa tahu bila sang ibu dalam keadaan stres atau tenang.
Jika ibu stres, biasanya anak ikut rewel atau cengeng. Begitu pun sebaliknya, jika ibunya tenang, anak ikut rilek.
Hubungan emosional lanjutan anak dengan orangtuanya terjadi pada saat proses memberi minum, menggendong, mendekap, dan menenteramkan.
Kualitas hubungan anak dengan ayah ibu di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti.
Saat berusia 3 bulan, anak mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka, terutama wajah kedua orangtuanya.
Ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana ”membaca” dan mengungkap emosi. Inilah tahap untuk secara aktif mulai melatih emosi anak.
###
Di usia 6 – 8 bulan, anak mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hati.
Seperti sedih, gembira, takut atau marah kepada sekeliling.
Jika sebelumnya ia hanya mampu memikirkan benda atau manusia yang ditatap saat itu, sekarang ia sudah bisa memindahkan perhatiannya sambil tetap mengingat obyek/manusia tanpa harus menatap lagi.
Kalau ia senang dengan boneka beruang, ia akan memandang orangtuanya atau orang lain sambil menyampaikan rasa senangnya lewat senyum, ocehan, atau gelak tawa.
Inilah dasar kemampuan untuk bermain dan berinteraksi secara emosional nantinya.
Di rentang usia 9 - 12 bulan, anak mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain.
Bila ayah atau ibu bertanya kepada anak, "Kakak lagi marah, ya?", anak dapat memahami bahwa orangtuanya ternyata bisa membaca atau mengetahui suasana hatinya.
Dengan kata lain anak mulai memahami bahwa dengan menunjukkan ekspresi tertentu, ia atau orang lain dapat berbagi emosi.