Tidak berbeda dengan orang dewasa, mendengkur alias ngorok juga bisa terjadi pada anak-anak.
Mendengkur atau ngorok bisa disebabkan kelainan anatomi hidung, adanya sumbatan oleh polip, atau alergi yang membuat selaput lendir membengkak sehingga penderita kesulitan bernapas dengan normal dan terpaksa harus bernapas lewat mulut sehingga menimbulkan bunyi. Tapi mendengkur yang rata-rata dialami anak-anak biasanya terjadi karena adanya pembengkakan tonsil atau amandel.
Pembengkakan amandel tersebut mengkibatkan jalan masuknya udara semakin sempit. Sempitnya aliran udara mengakibatkan jaringan pada organ tersebut bergetar. Dengan menyempitnya ruang bagi udara masuk maka timbul getaran yang kian keras dengan manisfestasi berupa timbulnya bunyi dengkuran.
Pada anak-anak, kondisi ini biasanya terjadi karena kelenjar limfa yang terdapat pada saluran pernafasan hidung-tenggorokan seringkali membengkak ketika anak pilek, flu, kena radang tenggorokan. Bisa juga terjadi karena sebab lain yang mengakibatkan hambatan aliran udara ke paru-paru.
###
Berbagai penelitian menunjukkan, 7-9% anak ngorok saat tidur. Kebiasaan mengorok akan terhenti dengan berhentinya pertumbuhan tonsil dan adenoid, yakni ketika anak mulai memasuki usia 7-8 tahun. Meskipun bukan suatu hal yang perlu dicemaskan, tapi kebiasaan mengorok pada anak jangan sekali-kali dipandang sebelah mata. Dengkur juga memicu gangguan tidur, padahal kenyamanan dan kecukupan waktu tidur sangat dibutuhkan anak-anak untuk pertumbuhannya.
Tanda-tanda yang harus diwaspadai:
• Ketika tidur, meskipun masih beraturan dan halus, terdengar suara yang bersumber dari tenggorokannya.
• Pola tidur anak gelisah yang ditandai dengan pola gerakan tidur yang tidak beraturan alias lasak
• Waktu tidur siang biasanya lebih lama sebagai penggati tidur di malam hari.
Sebaiknya segera informasikan ke dokter jika sudah menemukan gejala ngorok pada anak. Kalau penyebabnya adalah terganggunya organ pernapasan biasanya langsung direkomendasikan untuk mendapatkan penanganan ahli THT sehingga tonsil atau adenoid anak bisa ditangani atau diangkat.
###
Kalau hanya sesekali, mendengkur tidak perlu dikhawatirkan. Sebab bisa saja disebabkan karena kelelahan atau sakit. Namun serendah apapun, mendengkur merupakan kebiasaan buruk dan harus dihilangkan atau paling tidak dikurangi frekuensinya. Cara yang cukup efektif mengurangi kebiasan mendengkur yaitu dengan menghindari faktor-faktor yang menjadi pemicunya.
• Gangguan pernapasan ringan pada anak seperti pilek, radang tenggorokan, influensa sebaiknya cepat disembuhkan. Pada saat penyakit ini menyerang, organ pernapasan anak ikut terganggu dan membuat kualitas tidur anak menurun, karena pasokan oksigen terhambat.
• Tidur dengan posisi miring biasanya dapat mengurangi dengkur. Usahakan agar posisi bantal tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Dengan posisi tersebut, organ pernafasan di sekitar leher tidak berada dalam posisi lurus dengan tubuh sehingga udara masuk dengan lancar.
• Anak yang terlalu gemuk atau menderita obesitas biasanya terlihat seperti tidak punya batang leher. Karena terjadi penumpukan lemak di sekitar organ tersebut. Ini menjadi pemicu terhambatnya jalur pernapasan.
Nah, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika si kecil tidurnya ngorok ya...