Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Newborn and Baby > Baby Care > Diapers and Bottom Care > Berlatih Tanpa Pospak | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Berlatih Tanpa Pospak

Memakaikan pospak pada anak yang tak lagi bayi sama saja dengan membuatnya tidak belajar mandiri.

Ima (12 bulan) sudah pandai berjalan. Ia lagi senang hilir mudik ke sana kemari. Dengan bokong menggembung karena pakai pospak, Ima jadi tampak lucu. “Biar praktis saja, supaya gak bolak-balik ganti celana,” ujar sang Mama.

Kalau menggunakan pospak kan, jika ingin pipis atau buang air besar, ya, tinggal lakukan saja. Sayangnya, dengan mempertahankan kebiasaan seperti ini, si kecil jadi tak ada usaha berjalan ke kamar mandi atau belajar membersihkan bekas kotorannya. Itulah mengapa kerugian paling menonjol dari kebiasaan ini adalah anak jadi kurang mandiri. Selain itu, anak juga tidak terlatih untuk bisa menahan buang air besar dan kecil. Akhirnya, sampai besar anak akan mengompol terus.

Memang, ada orangtua yang cuma memakaikan pospak kala bepergian atau saat tidur. Tapi tak jarang ada anak sudah di atas 2 tahun pun masih pakai pospak sepanjang hari. Timbul pertanyaan kapan waktu paling ideal untuk melepas pospak?

###



Idealnya sih Ma, mulai seusia Ima anak sudah diajarkan untuk ke “belakakang”, atau maksimal 2 tahun anak sudah tidak dipakaikan pospak lagi. Ia harus bisa buang air di tempat yang semestinya. Oleh karena itu, sebelumnya orangtua sudah harus memberikan toilet training atau latihan buang air di toilet, termasuk menahan keinginan buang air kecil dan besar. Latihan ini perlu diajarkan di usia batita karena di rentang usia 1 hingga menjelang 3 tahun anak sudah mulai ingin menjadi mandiri atau melakukan aktivitas tanpa dibantu.

Yang perlu diingat, latihan buang air pada tempatnya membutuhkan proses yang tidak sebentar, bisa 2 sampai 3 bulan. Di antara latihan itu, insiden pasti akan terjadi, seperti masih mengompol di saat bermain, di saat tidur, atau tidak dapat menahan keinginan buang air besar. Inilah yang sering membuyarkan proses latihan, karena kemudian orangtua tak sanggup menghadapi insiden itu dan kembali mengandalkan pospak.

Demi kepraktisan sering menjadi alasan dipakainya pospak hingga lewat masa batita. Kan, dengan pospak atau diapers, orangtua tak perlu repot membersihkan bekas ompol anaknya ataupun menjemur kasur yang keompolan. Cucian bertumpuk pun, dengan begitu bisa dihindari.



###

Ma, Pa, bila ingin anak lepas dari pospak, maka orang tualah yang harus memulai. Tidak mungkin anak berinisiatif sendiri menghentikan kebiasaan yang umumnya dimulai sejak masa awal kelahirannya itu. Kalaupun ada, mungkin karena ia mulai merasa tidak nyaman, seperti kegerahan atau malu pada teman-temannya. Bila sampai terjadi, tentunya orangtua harus memperhatikan keinginan anak.

Di luar itu, untuk dapat lepas dari pospak maka diperlukan masa transisi. Anak pun harus diberi contoh, tak bisa hanya dinasehati seperti, "Kamu, kan, sudah besar jangan pakai pospak lagi, ya." Atau, orangtua langsung menyuruhnya duduk di kloset begitu anak ingin buang air besar. Harap diingat, bila sebelumnya anak tak kenal dengan alat yang bernama kloset, tentunya perpindahan tersebut terlalu mengejutkan buatnya.

Nah, selanjutnya, bila anak sudah bisa tidak pakai pospak lagi, pantaulah terus perkembangannya, misalnya berapa hari ia mampu mengatur buang airnya. Adakalanya, orangtua perlu mengulang-ulang instruksi dalam toilet training setiap hari. Lama-lama kebiasaan baru akan terbentuk dan anak bisa lepas sama sekali dari pospaknya, bahkan di malam hari. Jangan lupa, tiap kali anak mampu melakukannya dengan baik, beri dia pujian.

Tu kan, tidak sulit Ma, asal sabar saja melatihnya

Related Article

Indeks Back to Top