Duh pusingnya Rio tidak bisa diam. Rumah jadi seperti kapal pecah. Anak tetangga pun sempat dibuat menangis. Hiperaktif atau nakalkah Rio?
Mama Rio malu karena Rio seringkali membuat Aya—anak tetangga sebelah—menangis. Rio kadang mendorong Aya hingga si mungil itu jatuh. Kalau diberitahu, Rio malah melawan dengan mengencangkan volume suaranya. Belum lagi sejumlah ulah dan aksi Rio di rumah. Ia tidak bisa diam dan selalu berlari-lari di dalam rumah. Beberapa perabot rumah sudah pecah akibat ulahnya. Mama Rio dibikin pusing tujuh keliling kenapa Rio jadi nakal begini.
Nakal atau tidak seorang anak seringkali tergantung pada bagaimana orang dewasa memahami kebutuhan anak. Cobalah berikan si kecil berbagai alternatif untuk melakukan kegiatan lain sehingga ia tidak selalu dilarang. Sebab, semakin sering dilarang, anak akan merasa aktivitasnya dibatasi, sehingga jiwanya memberontak. Bentuk perlawanannya adalah mengabaikan perintah orang dewasa, berbuat ulah dan mencari gara-gara.
Tapi, jika itu yang terjadi, jangan terburu-buru menyebut anak kita nakal. Tidak jarang, perilakunya yang sering dinilai nakal oleh anggota keluarga, bisa dinilai positif oleh orang dewasa lain yang lebih bisa memahami kebutuhan anak ini. Justru anak seperti Rio bisa dinilai sebagai anak yang dinamis. Ia berupaya untuk striving for himself. Biasanya seiring bertambahnya usia, anak akan semakin dapat diajak bekerja sama.
###
Sebenarnya, semua itu wajar. Sebab, di usia pertumbuhan seperti Rio, keingintahuannya sangat besar. Ia ingin melihat ”dunia” sesungguhnya sehingga membuatnya melakukan banyak hal yang kadang kita pahami sebagai keusilan atau kenakalan. Padahal, sebenarnya itu adalah ekspresi keingintahuannya dan ekspresi untuk menunjukkan bahwa ia bisa melakukan sesuatu.
Maka, tak heran pada usia tersebut, anak menjadi super aktif. Tapi, jangan khawatir karena sebenarnya itu semua dasarnya adalah rasa ingin tahunya tinggi dan semangat yang membuat anak melakukan berbagai eksplorasi yang diinginkannya. Misalnya, memegang-megang benda yang diminatinya, otak-atik mainan, sampai mengganggu teman untuk mengetahui reaksinya
Rasa ingin tahu tersebut—yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan tadi—sebenarnya adalah bibit kecerdasan dan kreativitas tinggi sang anak. Sebab, perilakunya yang serba ingin tahu, eksplorasi yang dilakukannya mengasah simpul-simpul saraf otak dan membuatnya terbiasa merekam berbagai informasi penting.
###
Maka, respon kita sebagai orangtua sebenarnya akan sangat menentukan perkembangan kecerdasan buah hati. Sayangnya, banyaknya orangtua yang tanpa sadar mematikan bibit kreativitas ini dengan berbagai reaksi negatif yang mereka tunjukkan. Misalnya, dengan menegur, memarahi, melarang begini dan begitu, dan lainnya. Karena itu, keinginan orangtua mencegah sang anak berbuat nakal di masa pertumbuhannya ini sebisa mungkin sebaiknya diganti dengan cara lebih mengarahkan keusilan dan keisengan sang anak.
Misalnya, buah hati kita senang memukul-mukul benda-benda hingga berbunyi nyaring. Jika memungkinkan, ajak anak bermain genderang atau drum band sehingga hal tersebut akan memberinya sedikit pengetahuan tentang musik. Jika ia terlihat tertarik, ajak ia mengenal alat musik yang lain. Atau, bila ia senang membongkar mainannya, ajari sang buah hati untuk memasangnya kembali. Sehingga ia tak hanya bisa membongkar tetapi memasangnya juga. Kalau anak bisa melakukannya sendiri, artinya ia punya daya imajinasi dan kreativitas.
Jadi, jangan langsung memarahi sang anak dengan nada keras jika ia nakal. Siapa tahu, anak yang suka mencoret tembok, dengan pengarahan Anda yang benar, akan jadi the next maestro lukis Affandi?