Mengapa si kecil lebih lengket dengan Papa?
Mama Diana bingung kalau Lea (12 bln) sakit. Bukan apa-apa, karena Lea kerap mencari papanya kalau sedang sakit dan rewel. Pokoknya, sama orang lain gak mau, maunya sama papa. Kadang papa terpaksa harus minta ijin kantor untuk tidak masuk, atau pulang kantor lebih cepat.
Hubungan yang paling ideal antara orangtua dan anak adalah ia bisa dekat dengan kedua orangtuanya. Namun pada kenyataannya, karena berbagai faktor, umumnya si kecil akan lebih dekat dengan ibu.
Lalu mengapa, kok, sampai si kecil bisa lebih lengket dengan papa ketimbang mama? Banyak penyebabnya! Misalnya, karena adanya pergeseran nilai terhadap pengasuhan dan pendidikan antara generasi nenek-kakek/orangtua dulu dengan pasangan muda sekarang. Dulu, kebanyakan orangtua menyerahkan pengasuhan anak pada ibu.
Ayah zaman dulu, sepertinya malu menggendong anak atau mengantar anak ke sekolah. Tapi bapak-bapak muda sekarang, kan, berbeda. Mereka lebih banyak berperan serta dalam pengasuhan, lebih care, bahkan sudah tak malu-malu lagi untuk mengganti popok di depan umum. Atau, ketika si ibu sibuk, mereka tak segan untuk mengantar anak ke sekolah. Hal-hal seperti ini juga bisa membuat anak jadi lebih lengket ke ayah.
###
Kasus lain, mungkin si ibu bertipe cuek sehingga tak sepenuhnya meresapi waktu kebersamaannya dengan si kecil. Alhasil, biarpun si ibu selalu ada di rumah bersama si kecil, ia tetap lebih memilih dekat dengan ayah. Mungkin setiap hari ibu nonton telenovela terus dan tidak memperhatikan anaknya.
Sebab lain, bisa karena kedua orangtua sama-sama bekerja, tapi memiliki sifat berbeda. Si ibu tipe wanita yang mementingkan karier, sehingga kurang memperhatikan perkembangan si kecil, sedangkan si ayah bertipe care. Walau ia bekerja dan hanya mempunyai waktu singkat, tapi dapat memaksimalkan kualitas waktu untuk memperhatikan anak. Penyebab yang ini berkaitan dengan faktor sifat dan kematangan ibu.
Reaksi berlebihan yang ditampilkan orangtua yang ditolak anak bisa jadi justru membuat anak makin menikmati "permainan" ini. Jangan salah, di usia ini anak mulai belajar manipulatif. Ia sudah bisa menandai, makin ditolak, mama/papanya makin memerhatikan dan memberikan semua yang diminta. Selalu, kalau minta sesuatu anak berulah dulu. Ada kecenderungan, terutama mama, yang didera rasa bersalah bila anak "memusuhinya". Sehingga muncul dorongan untuk lebih longgar dan melanggar peraturan yang sudah dibuat bersama, manakala si anak mulai angot padanya.
###
Intinya, anak akan lebih memilih bersama salah satu orangtua yang membuatnya merasa istimewa. Bisa jadi keduanya cukup melimpahi dengan kasih sayang, tapi tetap saja ada satu-dua hal yang membuatnya merasa lebih nyaman dengan salah satunya.
Tapi jangan takut Ma, sikap "memusuhi" yang ditampilkan anak sebenarnya bukan benar-benar sikap tidak suka kok, melainkan sekadar hubungan "benci tapi rindu". Meski demikian jangan juga membiarkan masalah ini berlarut-larut. Banyak kerugian yang akan didapat kalau masalah ini tidak segera tertangani dengan baik. Salah satunya seperti yang dialami Mama Diana di atas, setiap kali Lea sakit, ia panik karena Lea tidak pernah mau sama yang lain kecuali papanya.
Nah intinya, orangtua harus memulai untuk mengusahakan hubungan yang mesra dengan anak. Ingat, makin dekat anak dengan orangtua, anak makin mudah di-handle. Kelak, ketika ada masalah apa pun di depan sana, kalau anak dekat dengan orangtua pasti masih bisa diajak bicara. Sebaliknya, kalau sudah telanjur ‘musuhan’, nantinya akan menyulitkan semua pihak. Yang pasti, membuat anak dekat dengan orangtua harus dimulai sejak usia dini dan selalu jaga keseimbangan hubungan dengan keduanya, baik mama dan papa ya…