Cannot use a CONTAINS or FREETEXT predicate on table or indexed view 'cmsPropertyData' because it is not full-text indexed. LEARN > Article and tips > Newborn and Baby > Baby Care > Behaviour > Kok Mengisap Jempol? | Morinaga Platinum - The Platinum Generation starts here

  • LEARN
  • -
  • Article and tips

Send to Friends
Print

Kok Mengisap Jempol?

Pada rentang usia di bawah 1 tahun si kecil suka sekali mengisap jempolnya, atau jari-jari lain, atau mungkin juga mengisap dot dari plastik alias empeng. Akankah ini berlanjut?


Linda (5 bulan) senang mengisap, bukan hanya jempol, tapi seluruh jari tangan kanannya. Takut kondisi ini berlanjut, terkadang sang ibu cepat-cepat mengalihkan kebiasaan ini dengan memberinya empeng.  

Bu, mengisap jempol adalah perilaku normal pada anak. Kebiasaan ini dilakukan oleh 70-90% anak di seluruh dunia. Insting alami untuk mengisap membuat si kecil mengisap jempolnya pada beberapa bulan pertama kehidupannya, atau bahkan sejak dalam kandungan pada usia kehamilan 29 minggu.

Refleks mengisap (sucking reflex) adalah dorongan alami yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Refleks ini akan bertahan pada 3-4 bulan pertama setelah lahir dan akan berkurang setelah ia berusia 6 bulan. Fenomena ini diperkuat teori psikonalitik Freud yang menyebutkan setiap manusia akan menjalani fase-fase perkembangan tertentu dalam hidupnya, salah satunya adalah fase oral pada usia 0-18 bulan. Pada fase ini, anak akan memusatkan stimulus atau rangsang sentuhan pada mulut dan bibirnya.
Dalam learning theory juga dikatakan anak belajar mengasosiasikan tindakan mengisap dengan perasaan yang menyenangkan seperti rasa kenyang atau nyaman ketika ia minum ASI dari puting susu sambil dipeluk oleh sang ibu. Karena itulah mengisap jempol atau dot memberikan efek menenangkan (soothing effect), yang tentu membantu si kecil untuk tidur, atau membuatnya nyaman dan menenangkannya ketika ia rewel, marah, takut, lapar, tidak bisa diam, atau merasa bosan.

###


Mengisap jempol termasuk dalam kelompok nonnutritive sucking yang secara umum dipandang sebagai dorongan biologis anak yang berkembang menjadi suatu kebiasaan. Pada umumnya berhenti di usia 4 tahun, namun dapat pula bertahan lebih lama.

The Journal of the American Dental Association mengungkapkan, kebiasaan mengisap jempol atau jari dapat mengakibatkan beberapa masalah gigi apabila berlanjut sampai si kecil berusia lebih dari 2 tahun. Masalah yang paling sering terjadi adalah maloklusi atau ketidaksesuaian posisi gigi rahang atas dan bawah yang menimbulkan perubahan pola gigitan.

Tidak hanya itu, kebiasaan mengisap ini juga dapat menimbulkan rasa nyeri pada jari si kecil, atau membentuk tonjolan tulang yang abnormal pada jari (kalus), infeksi kuku, dan iritasi kulit. Jempol yang kotor atau terinfeksi dapat menjadi media masuknya bahan-bahan berbahaya yang kemudian tertelan tanpa disadari.
Namun, berat tidaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat mengisap tergantung dari berapa lama dan seringnya si kecil melakukan kebiasaan ini, serta bagaimana posisi jari di dalam mulut. Semakin lama dan intens kebiasaan jempol isap ini dilakukan, semakin besar kemungkinan si kecil memerlukan terapi psikologis dari psikolog anak atau terapi ortodonti dari dokter gigi untuk memperbaiki masalah giginya.

###


Nah untuk itu, sebelum si kecil mencapai usia 4 tahun, bahkan sebelum ia menunjukkan kelainan-kelainan gigi atau berbicara, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mencegah kebiasaan ini berlanjut.
Jika Ibu masih menyusui si kecil dengan ASI, berusahalah untuk menyediakan ASI sesering mungkin setiap saat ia menginginkannya. Tujuh puluh lima persen anak di negara industri mengisap jempolnya pada kurun waktu tertentu, dan angka ini jauh lebih tinggi dibanding di negara yang kebanyakan ibunya dapat memberikan ASI langsung dari payudara. Prinsipnya, jika kebutuhan mengisap (sucking urge) si kecil terpenuhi dari ibu, maka ia tidak akan mengisap jempolnya.

Ingat loh Bu, salah satu alasan mengapa si kecil mengisap jempolnya adalah karena ia merasa tidak aman, lapar, atau merindukan kenyamanan seperti yang ia rasakan ketika dalam kandungan, atau ketika ia mengisap dari puting susu sambil dipeluk oleh ibu. Dalam alam pikiran si kecil: isap = susu, makanan, ibu = nyaman, senang, aman.

Lantas, kapan Ibu harus berkata stop mengisap jempol pada si kecil? Bila si kecil masih berusia 0-12 bulan, Ibu belum perlu melakukan usaha ekstra untuk menghentikan kebiasaan ini karena pada dasarnya mengisap jempol adalah cara si kecil memenuhi dorongan kebutuhan psikologisnya. Kalau kebiasaan ini berlanjut hingá usianya lebih dari 4 tahun, Ibu bisa konsultasikan masalah ini pada dokter atau psikolog anak bagaimana upaya yang efektif untuk menghentikannya.

Related Article

Indeks Back to Top