Anak perlu diajarkan disiplin untuk mandi dan membersihkan tubuh.
Setiap anak punya pola keseharian yang unik. Jam biologis untuk makan dan minum, tidur, bermain, serta buang air tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain. Prinsipnya, jika kebutuhan dasar anak akan rasa aman dan nyaman sudah terpenuhi, ia sudah bisa dilatih untuk menjalani keteraturan. Dengan catatan, proses pelatihan haruslah perlahan. Lantaran itu orangtua dituntut sabar, telaten, dan dapat menjadi contoh yang baik. Kalau orangtua tidak peduli pada keteraturan, bagaimanapun cara penerapannya, sulit bagi si kecil untuk hidup teratur karena contohnya tidak ada.
Rutinitas berkaitan dengan disiplin. Kalau anak tidak mengenal rutinitas, kelak ia tak bisa mengenal aturan yang ada di lingkungannya. Dikhawatirkan, ia akan mengalami kesulitan bersosialisasi karena sikap dan tindakannya yang "semau gue". Sebaliknya, rutinitas akan membentuk anak bertanggung jawab dan mandiri. Namun sekali lagi, untuk mencapai tujuan mulia tersebut, penerapannya harus melalui proses yang cukup panjang. Tidak dengan jalan pintas. Selain itu, diperlukan konsistensi dari waktu ke waktu. Jadwal hari ini akan sama dengan besok atau lusa.
Waktu mandi pun bisa terjadwal. Kalau dari segi kesehatan kita mesti mandi setidaknya dua kali sehari, begitu pun untuk anak. Misal, penjadwalan mandi pagi pada pukul 07.00 sementara mandi sore pukul 16.00. Penerapannya juga jangan terlalu kaku. Jika kondisi tidak memungkinkan, jangan paksa anak mandi teng di waktu tersebut. Bahkan ia bisa saja tak perlu mandi tapi cukup dilap. Misalnya saat anak sakit atau dalam perjalanan ke luar kota. Meskipun ia belum mampu berkomunikasi, tetap jelaskan alasan ia tidak mandi di hari itu. Dengan demikian, si kecil sudah dididik untuk tahu aturan sekaligus bisa bersikap fleksibel pada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
###
Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin tahu atau keinginan bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada juga yang takut terhadap air karena pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak melarang. Semisal jangan mandi lama-lama, enggak boleh main hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.
Padahal, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak. Selain bisa merasakan adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak dioptimalkan dengan mengarahkan anak untuk mencintai dunia ilmu pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya bermain air dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur air dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan banyak hal baru mengenai berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna, dan sebagainya.