14 January 2010

Vlek, TBC, dan Pencegahannya

Banyak ibu yang anaknya pernah mendapatkan pengobatan 6 bulan--kadang lebih--karena ‘sakit vlek’, tetapi jarang yang mendapat informasi yang lengkap mengenai apa sebenarnya penyakit ’vlek’ itu. Ketika saya tanyakan, sebagian menjawab bahwa vlek adalah penyakit yang didapat karena sering tidur dengan kipas angin sehingga kedinginan. Sebagian menjawab bahwa vlek adalah penyakit yang menyebabkan anak kurus karena malas makan. Dan, hampir semua terkejut ketika diberitahu bahwa ’vlek’ adalah istilah yang dipakai untuk menggantikan kata TBC atau tuberkulosis.

Sebenarnya, istilah ’vlek’ diambil dari gambaran bercak putih pada ronsen paru penderita tuberkulosis. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat bersarang di hampir semua organ tubuh, contohnya: otak, kulit, paru-paru, ginjal, tulang, hingga kelenjar getah bening. Namun, paling sering bersarang yaitu pada paru-paru dan kelenjar getah bening.

Biasanya, tuberkulosis ditularkan melalui percikan riak yang mengandung kuman yang lepas ke udara dari saluran napas penderitanya pada saat batuk. Apabila kuman yang dilepaskan tadi memasuki saluran napas orang sehat, maka orang tersebut dapat tertular tuberkulosis.

Tuberkulosis pada anak menyerang kelenjar getah bening sehingga gejala utamanya bukanlah batuk-batuk. Apabila batuk pun, jumlah kuman yang dilepaskan tidak besar sehingga relatif tidak menular bila dibandingkan dengan orang dewasa yang menderita tuberkulosis. Gejalanya yang mudah dideteksi adalah anak sering sakit, demam berulang yang tidak jelas penyebabnya, batuk berkepanjangan, nafsu makan berkurang sehingga berat badan sulit naiknya. Karena itu, dokter umumnya akan mencurigai penyakit tuberkulosis pada anak yang memiliki gejala seperti itu.

Apabila dokter mencurigai anak ibu menderita tuberkulosis, maka dokter akan meminta beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan pertama adalah uji tuberkulin di mana sedikit protein dari kuman tuberkulosis yang sudah dimatikan disuntikkan ke dalam kulit anak. Salah satu jenis uji tuberkulin adalah uji Mantoux yang sering dipakai di Indonesia di mana sejumlah protein tertentu tuberkulin disuntikkan ke dalam kulit pada permukaan atas lengan bawah. Pada prinsipnya, uji tuberkulin dimaksudkan untuk mengetahui apakah tubuh anak--melalui sistem kekebalannya--sudah kenal dengan kuman tuberkulosis. Apabila kenal, maka 48 sampai 72 jam kemudian pada saat pembacaan akan muncul bentol yang kemudian ditentukan diameternya untuk melihat apakah reaksinya positif (tubuh kenal) atau negatif (tidak kenal). Apabila tubuh anak kenal dengan kuman tersebut, maka dari pemeriksaan darah dan ronsen paru serta hasil pemeriksaan tubuh dan riwayat kesehatan anak akan ditentukan apakah anak tersebut kenal dan sakit atau kenal saja tetapi tidak sakit (karena kekebalan tubuh berhasil mengeliminasi kuman tersebut setelah berkenalan). Apabila ternyata anak memang sakit maka diberikan pengobatan dengan 3 macam obat selama 6 bulan.

Apa bahayanya bila tidak mengetahui dengan pasti apa nama penyakit anak kita dan bagaimana cara penularannya? Biasanya, ketidaktahuan dapat menyebabkan ketidakhati-hatian. Apalagi bila penderita ’vlek’ tersebut adalah orang dewasa yang sangat menular. Penderita tuberkulosis dewasa dapat menulari anggota keluarga di sekelilingnya apalagi anak-anak sehingga anak disekelilingnya perlu menjalani screening untuk memastikan bahwa anak tidak tertular, dan apabila tertular agar dapat menjalani pengobatan sebagaimana mestinya. Perlu diketahui juga, bahwa anak yang sudah diobati sampai sembuh masih mungkin tertular lagi apabila hidup berdekatan dengan penderita tuberkulosis.

Sebenarnya, tuberkulosis dapat dicegah dengan cara yang cukup sederhana. Yakni, dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan. Tutupi mulut bila batuk. Jangan membuang riak sembarangan. Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila kesehatan tergangggu. Makanlah makanan dengan gizi seimbang. Nasihati tetangga atau keluarga yang menderita batuk lama agar memeriksaakan kesehatannya. Dukunglah penderita agar tetap rajin minum obat. Jangan memberikan stigma kepada penderita tuberkulosis karena akan membawa kepada pengingkaran yang semakin mempersulit pengendalian tuberkulosis di negara kita.

Semoga informasi ini bermanfaat buat ibu-ibu semua ya...
Posted by Syarifah Hanum in 08:21:54
2 comment(s)
  • Emas
    Emas

    15 January 2010

    Duh jadi harus waspada ya, menjaga buah hati kita..

  • SOFIANA
    SOFIANA

    21 January 2010

    Selalu waspada & tanggap untuk all mom's pada buah hati kita : )

Post Comment

You have to be member to post a comment. Register Now!