04 September 2009

Self Control Pada Anak (Bagian Ketiga)

Sudah mulai memahami bagaimana mengelola dan mengatur self control pada anak? Mudah-mudahan, apa yang saya tulis minggu-minggu kemarin dapat dipraktikkan sehingga bisa memberikan manfaat ya…

Nah, sesuai janji saya, untuk kali ini, saya ingin meneruskan tulisan tersebut dengan memberikan Success Plan 3, yakni tentang bagaimana mengajarkan anak untuk mengelola kemarahan (anger management).

Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:
Langkah 1: tentukan jika anak sudah siap untuk belajar keterampilan anger management
•    anak di bawah 8 tahun belum memiliki kemampuan dasar untuk belajar keterampilan ini
•    jika anak terlalu defensif, maka lebih produktif jika menggunakan family conflict management

Langkah 2
: mengajarkan anak untuk "mendefinisikan" marah
•    banyak anak yang tidak mengenali atau mengerti bahwa yang dirasakannya tersebut adalah marah.
•    untuk bisa mengontrol kemarahan, anak perlu paham dulu bahwa marah adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan yang muncul akibat sesuatu tidak berjalan sesuai dengan kehendak kita. Ajarkan ini pada anak dan minta pada anak untuk menggambarkan pada situasi apa saja ia merasakan marah.

Langkah 3: ajari anak untuk mengenali sinyal-sinyal kemarahan
•    jelaskan pada anak kalau kita marah itu akan ada 3 sinyal, yaitu sinyal tubuh, pikiran, dan tindakan
- contoh sinyal tubuh: suhu badan jadi panas, keringatan, deg-degan
- contoh sinyal pikiran: aku benci kamu! aku ingin memecahkan sesuatu! aku bodoh!
- contoh sinyal tindakan: memukul, menangis, berteriak, dll
•    kalau sudah didaftar semua sinyalnya, diskusikan dengan anak, minta anak untuk membayangkan saat-saat ketika ia marah dan sinyal-sinyal apa saja yang muncul di situasi tersebut

Langkah 4: mengajarkan anak untuk rileks
•    tarik napas dalam: instruksikan dan demonstrasikan pada anak bagaimana caranya tarik napas dalam (intinya: tarik nafas sangat dalam lalu hembuskan dengan perlahan-lahan)
•    visualisasi: minta anak untuk membayangkan situasi yang menenangkan. Misal: anak membayangkan ia sedang terapung-apung di atas rakit di danau.
•    teknik robot: minta anak untuk menegangkan semua ototnya, katakan bahwa ia misalnya seperti robot. Lakukan selama 15 detik, lalu lemaskan seluruh otot tubuhnya selama 15 detik teruskan latihan ini sampai anak tahu seperti apa keadaan tubuh ketika sedang rileks

Langkah 5: ajari anak untuk melakukan "self talk", yakni berbicara sendiri dalam hati untuk menenangkan diri. Contoh : “Tenang.. tenang...., aku akan baik-baik saja, nggak apa-apa kok kalau aku ngga bisa...”

Langkah 6 (terakhir): ajari anak untuk bertindak
•    langkah terakhir untuk belajar mengelola kemarahan adalah dengan mengambil tindakan yang merupakan pemecahan masalah terhadap situasi atau keadaan yang membuat seseorang marah
•    hal ini mencakup: mengekspresikan perasaan, mengatakan harapan-harapannya dengan terbuka, dan lain-lain.

Setelah apa yang saya ungkapkan, semoga ibu-ibu bisa mendapatkan pembelajaran tentang self control ya…. Pastinya, lakukan semua dengan penuh perhatian dan kesabaran, pasti ibu akan bisa memetik manfaatnya, baik untuk ibu sendiri, maupun buat buah hati tercinta….
Posted by Dita Mediasari S.psi in 06:51:30
0 comment(s)
 

Post Comment

You have to be member to post a comment. Register Now!