11 September 2009

Kemampuan Social Problem Solving

Pernahkah Anda menjumpai anak yang bertengkar hebat dengan teman sebaya atau adiknya? Jika ya, apa yang Anda lakukan. Apakah melerai dengan memberikan solusi atas kehendak Anda karena segera ingin menyudahi pertengkaran tersebut? Sebenarnya, ada beberapa hal yang perlu diketahui jika terjadi hal seperti itu. Sebab, hal itu justru bisa melatih social problem solving anak. Saya memberikan sedikit catatan seputar hal tersebut pada tulisan kali ini.

Saat ini, kita sering menjumpai fenomena di mana anak-anak kita tampaknya kesulitan untuk bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Biasanya, hal ini berhubungan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial. Contohnya: anak ingin bermain dengan temannya, tapi kurang tahu bagaimana caranya untuk mengajak berteman. Sehingga, ia jadi cenderung diam saja, bahkan terasing. Atau, contoh lain misalnya adik kakak yang berebut remote control karena ingin menonton siaran televisi yang berbeda. Ujungnya, mereka bertengkar hebat karena tidak bisa memecahkan masalah mereka.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ternyata hal-hal tersebut bisa terjadi karena kita sering kali justru tidak membiasakan atau melatih anak-anak memecahkan masalahnya sendiri. Sebab, biasanya hal yang kita lakukan adalah memecahkan masalah untuk si anak. Jadi, kitalah yang sering kali memutuskan apa yang harus dilakukan anak. Misalnya, kita melihat anak-anak kita berebut mainan, secara otomatis biasanya kita akan memutuskan, "Sudah... kakaknya aja yang ngalah.. nanti adik nangis…"

Padahal, hal-hal seperti itulah yang menghambat perkembangan kemampuan social problem solving anak-anak kita. Karena, si kecil sendiri tidak diberi kesempatan untuk memikirkan apa seharusnya pemecahan masalah yang harus dia lakukan.

Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita bisa mulai melatih anak kita untuk memutuskan sendiri. Contoh sederhananya adalah: ketika anak kita berebut mainan, alih-alih memutuskan siapa yang harus mengalah, kita lebih baik bertanya pada mereka, "Ada apa?" atau "Apa yang terjadi?" Dengan pertanyaan tersebut, sesungguhnya kita melatih anak untuk mengidentifikasikan masalah. Lalu, setelah itu kita tanya lagi... "Kalau itu yang terjadi, bagaimana dong caranya supaya kalian berdua bisa memainkan mainan ini sama-sama?" Dengan pertanyaan seperti itu, kita bisa menstimulasi anak untuk memikirkan sendiri apa solusi dari permasalahan yang mereka alami.

Memang, untuk melatih kemampuan social problem solving ini tidak mudah... Oleh karena itu, pada awalnya kita perlu memberikan banyak petunjuk dan bimbingan.. Tapi, toh tidak ada salahnya kita coba... Karena, dengan pembiasaan ini diharapkan ketika beranjak dewasa, sang anak sudah memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan masalahnya sendiri. Apalagi, hal ini bisa jadi keuntungan baginya, karena hidup ini memang penuh dengan masalah yang perlu dipecahkan bukan?

Selamat melatih kepekaan anak memecahkan masalah ya…
Posted by Dita Mediasari S.psi in 05:46:52
1 comment(s)

  • Veronika

    23 October 2010

    Mksh dok info nya

Post Comment

You have to be member to post a comment. Register Now!