16 October 2009

Interaksi Obat dengan Susu dan Makanan

Banyak dari orangtua selalu bertanya-tanya, apakah obat boleh diminum dengan susu? Kemudian, pertanyaan lain yang juga sering mengemuka adalah apakah boleh minum obat dengan perut kosong atau tanpa makan lebih dahulu? 

Pertanyaan tersebut membuat saya teringat pada pasien yang datang ke praktik saya karena anak balitanya muntah dan demam. Orangtuanya mengatakan bahwa anaknya sudah dibawa ke dokter, tetapi gejalanya belum membaik. Setelah saya tanyakan, ternyata obat yang diberikan dokter tersebut tidak diminumkan. Hal tersebut terjadi karena anak mereka tidak mau makan sehingga orangtua khawatir memberikan obat dalam keadaan perut kosong. Kalau begitu, bagaimana menurunkan panas dan mengurangi mual?

Masalah yang dikhawatirkan orangtua tersebut merupakan bagian dari suatu proses dalam dunia medis yang disebut ‘interaksi obat’. Interaksi obat adalah suatu keadaan di mana suatu senyawa dapat menyebabkan berkurangnya atau sebaliknya, malah meningkatkan efek obat tertentu. Atau, bisa juga terjadi, obat tersebut menyebabkan suatu efek yang lain sama sekali daripada efek obat tersebut pada mulanya. 

Perlu diketahui bahwa obat memang dapat berinteraksi dengan makanan, dengan obat lain, atau dengan senyawa lain misalnya dari sediaan herbal. Interaksi tersebut dapat terjadi di saluran cerna atau dalam aliran darah. Contohnya adalah zat besi yang didapat dari makanan atau dari sediaan suplemen yang mengandung zat besi. Zat ini akan lebih baik penyerapannya dari dalam lambung apabila suasana lambung lebih asam (misalnya dikonsumsi dengan vitamin C atau buah yang bersifat asam, atau pada saat perut kosong sehingga suasana lambung lebih asam). Dan sebaliknya, zat ini akan berkurang penyerapannya apabila dikonsumsi beserta makanan atau minuman yang mengandung tannin, misalnya teh. 

Nah, interaksi obat dengan makanan tidak dapat disamakan untuk semua jenis obat. Sebagian obat lebih baik diminum pada saat perut kosong. Hal tersebut terjadi karena  penyerapan obat tersebut dari saluran cerna lebih baik pada saat saluran cerna tidak berisi makanan. Sedangkan sebagian obat lain ada juga yang lebih baik diminum pada saat perut berisi makanan. Pada umumnya, untuk obat jenis ini disebabkan oleh sifat obat yang dapat mengiritasi saluran cerna yang kosong, atau menyebabkan efek mual apabila diminum pada saat perut kosong. Selain itu, ada pula obat yang sama sekali tidak terpengaruh oleh ada tidaknya makanan dalam perut.

Contoh obat yang lebih baik diminum dalam keadaan perut kosong adalah antibiotika ampisilin, rifampisin, kotrimoksasol, dan masih banyak lagi lainnya. Contoh obat yang sebaiknya diminum pada saat perut berisi makanan adalah aspirin, metil prednisolon, dan lain-lain. Apabila dokter atau apoteker tidak menyertakan petunjuk khusus, maka umumnya obat tersebut tidak begitu terpengaruh oleh makanan.

Lantas, bagaimana interaksi obat dengan susu? Secara umum susu termasuk dalam kategori makanan. Hal yang menyebabkan susu sering dianggap menjadi masalah dalam pemberian obat kemungkinan akibat nasihat turun temurun dari orangtua. Pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an, antibiotika yang paling sering diresepkan untuk anak adalah tetrasiklin karena belum banyak antibiotika lain yang tersedia seperti sekarang. 

Tetrasiklin dalam saluran cerna apabila diminum bersama susu akan diikat oleh kalsium dalam susu sehingga tidak dapat diserap ke dalam aliran darah. Karena itu, jika diminum bersama dengan susu, maka efeknya akan jauh berkurang. Yang mengandung kalsium tentu saja bukan hanya susu, tetapi makanan yang paling mengandung kalsium yang dikonsumsi anak pada umumnya adalah susu. Karena itu, mungkin kebiasaan orangtua kita diturunkan kepada generasi di bawahnya sehingga mereka mengajarkan bahwa obat tidak boleh diminum bersama susu. 

Pada saat ini, tetrasiklin sudah sangat jarang sekali (kalau tidak dapat dikatakan tidak pernah) dipakai lagi untuk anak-anak karena dapat menyebabkan warna kuning sampai kecoklatan pada gigi apabila diberikan pada usia kurang dari 8 tahun. Selain itu, saat ini juga sudah banyak antibiotika lain yang lebih aman untuk digunakan. Antibiotika dan obat-obatan lain yang umum digunakan untuk anak pada saat sekarang ini pada umumnya tidak begitu terpengaruh oleh susu. Karena itu, tidak perlu ada kekhawatiran berlebih soal interaksi obat saat minum susu.

Yang jelas, untuk saat ini, apabila obat yang diresepkan untuk anak akan terpengaruh oleh makanan atau minuman tertent, biasanya dokter akan menuliskan instruksi khusus dalam resep yang dituliskan pada petunjuk minum obat. Misalnya, minum setelah makan, 2  jam sebelum makan, dan lain-lain. Apabila tidak ada petunjuk, maka biasanya tidak diperlukan perlakuan khusus. Apabila ibu atau ayah meragukan, tanyakanlah kepada dokter yang meresepkan atau kepada apoteker yang memberikan obat.

Semoga informasi ini dapat menjadi tambahan pengetahuan untuk kita semua ya…

Posted by Syarifah Hanum in 05:51:18
2 comment(s)

  • niken

    28 July 2010

    Terimaksih atas infonya, jd lbh tau nih.

  • ema
    ema

    04 August 2010

    Dokter,, bunda mau tanya bagaimana dengan imunisasi, setiap telah diimunisasi bidan selalu memberikan parasetamol,,, bagaimana cara minumnya apakah harus memberi jeda waktu atau bisa langsung diberikan setelah imunisasi ?? Trimz

Post Comment

You have to be member to post a comment. Register Now!